Dia pun berharap agar pihak sekolah lebih bijak dalam mendidik para murid. Sanksi bagi siswa yang bandel itu memang dibutuhkan, namun harus dikaji terlebih dahulu sebelum aturan tersebut diberlakukan. Misalnya saat ada sejumlah siswa yang tidak mengerjakan PR hingga berkali-kali, harusnya dicari dulu akar permasalahan, kenapa si anak tidak mengerjakan tugas tersebut, dan bukan langsung diberikan hukuman.
“Setidaknya wali murid juga diberitahu melalui surat tertulis, tapi hukuman ini malah langsung diumumkan saat rapat. Gara-gara masalah ini, keponakan saya jadi sedikit minder,” kata Wahyu.
Terpisah, Kepala SDN 6 Wonosari Iryan Swasini tidak menampik adanya hukuman belajar dengan adik tingkat selama sehari. Aturan ini juga sudah melalui kesepakatan bersama seluruh murid. “Aturannya beda-beda, karena disesuaikan dengan kesepakatan di masing-masing kelas. Apalagi peraturan ini yang buat para murid sendiri,” kata Iryan.
Dia menjelaskan, hingga sekarang sudah ada tiga siswa yang sudah menjalani hukuman, sementara itu masih ada dua murid lainnya yang terancam hukuman yang sama. Iryan mengakui, meski agak berat namun kebijakan itu memberikan efek positif.
Sebagai buktinya, sambungnya, para siswa yang sempat merasakan belajar dengan adik tingkat bisa lebih rajin dalam belajar.
(M Budi Santosa)
News Okezone memberikan berita terkini dengan akurat dan terpercaya. Ikuti informasi terbaru tentang politik, sosial, dan peristiwa penting lainnya, langsung dari sumber yang terpercaya.