Sementara KH Noer Ali bersama sekira 40 pasukan Laskar Hisbullah, keluar dari Rawagede menuju Muara Gembong, kemudian Kampung Bugis di pedalaman Karawang.
“Setelah rapat, mereka bubar. Lukas ke Tambun untuk kemudian menyerang pos Belanda di Cililitan. Nah, KH Noer Ali sama 40 anak buahnya menyusuri Sungai Citarum menuju Kampung Bugis,” ungkap Beny Rusmawan, penggiat sejarah Bekasi kepada Okezone, Rabu (9/12/2015).
Ketika mendengar kejadian pembantaian Rawagede, Kapten Lukas sedianya ngotot ingin kembali. Lukas ingin bikin perhitungan alias balas dendam terhadap Belanda.
“Pas kejadian (pembantaian) Rawagede, Lukas dengar kabar itu ketika dia masih di pos TNI di Tambun. Saat itu, dia ngotot ingin balik. Dia pengin balas serang pos Belanda di Cikampek. Tapi pejuang-pejuang yang lain menahan Lukas karena merasa kekuatan mereka tak sebanding,” pungkasnya.
Pemerintah Indonesia sendiri sempat memprotes tindakan Belanda di Rawagede itu ke PBB. Sayangnya, tak ditanggapi dengan aksi nyata dari PBB. Respons PBB saat itu hanya menyesalkan dan sekadar melayangkan kecaman terhadap Belanda.
Peristiwa ini sampai sekarang masih membekas jika bicara hubungan RI dan Belanda sejak era revolusi. Pada 2011, Duta Besar Belanda saat itu, Tjeerd de Zwaan meminta maaf atas tragedi itu, sekaligus tabur bunga di makam korban Rawagede.
(Randy Wirayudha)
News Okezone memberikan berita terkini dengan akurat dan terpercaya. Ikuti informasi terbaru tentang politik, sosial, dan peristiwa penting lainnya, langsung dari sumber yang terpercaya.