MEDAN - Tahun baru Imlek 2016 yang dirayakan selama 15 hari terasa sunyi di Kota Tebingtinggi, Sumatera Utara. Padahal empat tahun ke belakang, kemeriahan saat Imlek jelas terlihat di kota itu.
Hilangnya tradisi raon becak menjadi penyebab utama mengapa perayaan Imlek di Kota Tebingtinggi sunyi. Tradisi raon becak yang memeriahkan perayaan Imlek dulu sempat tersohor di kalangan etnis Tionghoa di Sumatera Utara (Sumut).
Dulunya, etnis Tionghoa dari luar kota banyak yang merayakan Imlek di Tebingtinggi hanya untuk sekedar melihat raon becak. Mereka yang merayakan Imlek menumpangi becak mengelilingi Kota Tebingtinggi.
Sejak 2012-2014, etnis Tionghoa di Tebingtinggi tak menggelar tradisi raon becak. Baru pada 2015 kegiatan itu kembali digelar. Sayangnya ada beberapa pihak yang menentang, sehingga pada tahun ini raon becak tidak lagi digelar.
Pada pagelaran raon becak, warga yang berada di tepi jalan dan warga peserta raon becak melempar jagung, air, dan telur sebagai bentuk suka cita perayaan Imlek.
Namun bagi kelompok tertentu, tradisi tersebut mengganggu ketentraman dan membuat Kota jadi kotor karena banyak sampah berserakan. Itulah yang mendasari kelompok tertentu mengimbau etnis Tionghoa agar tidak menggelar raon becak.