Padahal menurutnya, jika tradisi raon becak dilestarikan, bisa menarik wisatawan untuk merayarakan Imlek di Kota Tebingtinggi. "Para anak-anak muda maupun orangtua bisa ikut serta dalam kegiatan itu. Raon becak bisa menjadi daya tarik wisata bagi Kota Tebingtinggi. Saya berharap untuk tahun-tahun ke depan bisa mulai dihidupkan lagi tradisi raon becak," terang Sandy.
Merasa kehilangan tradisi raon becak juga dirasakan Robin. Pria dengan nama sapaan Acen ini, menilai suasana Imlek tahun ini di Tebingtinggi adalah yang tersuram. "Kali ini Imlek paling suram dan paling sunyi di kota ini. Kalau begini lebih baik keluar kota," ucapnya.
Acen juga menuturkan ketakutan warga etnis Tionghoa untuk menggelar raon becak karena beredar kabar adanya larangan dari pihak tertentu. "Kabarnya dilarang, itu sebabnya warga takut raon becak karena ada oknum tertentu yg melarang," tutur Acen.
Sepinya perayaan Imlek di Tebingtinggi berdampak pada perputaran ekonomi di kota itu, terutama bagi pedagang kaki lima dan penarik becak. Rahman, penarik becak yang biasa mangkal di simpang Jalan Sudirman, mengutarakan keluhannya.
"Sunyi kali kota ini, yang diharapkan tiap tahunnya malah tak ada. Dahulu setiap imlek setidaknya bisa bawa pulang uang untuk keluarga, mau nya pemerintah mendukunglah kegiatan itu," kata Rahman.
(Risna Nur Rahayu)
News Okezone memberikan berita terkini dengan akurat dan terpercaya. Ikuti informasi terbaru tentang politik, sosial, dan peristiwa penting lainnya, langsung dari sumber yang terpercaya.