Advertisement
Advertisement
Advertisement
INFOGRAFIS INDEKS
Advertisement

Hilangnya Tradisi Raon Becak Imlek di Tebingtinggi

Erie Prasetyo , Jurnalis-Sabtu, 13 Februari 2016 |00:08 WIB
Hilangnya Tradisi Raon Becak Imlek di Tebingtinggi
foto: Erie Prasetyo/Okezone
A
A
A

Imbauan dilakukan dengan cara menyebarkan selebaran larangan ke berbagai tempat termasuk ke sekolah. Selebaran juga diberikan ke guru, sehingga para guru melarang muridnya untuk menggelar raon becak.

Raon becak lahir sekira tahun 1970-an. Merupakan kegiatan tahunan warga Tionghoa di Kota Tebingtinggi saat merayakan Imlek. Sedangkan tradisi lempar jagung, air dan telur baru muncul pada tahun 2000.

Pagelaran rakyat itu dilakukan saat malam pergantian tahun baru Cina atau Imlek. Usai berdoa di wihara, ribuan etnis Tionghoa menumpangi becak berkeliling Kota Tebingtinggi. Pagelaran itu biasanya dilakukan dari hari pertama Imlek hingga hari ke-3. Kemudian pada hari ke-8 dan ke-15 (Cap Go Meh).

Untuk membuat raon becak menjadi menarik. Ratusan penarik becak dayung atau becak bermotor, menghiasai becak dengan pernak-pernik khas Imlek. Para warga lain juga bersuka cita melihat parade yang digelar di jalan-jalan protokol.

Wakil Ketua Generasi Muda Indonesia Tionghoa (Gema Inti) Sumatera Utara, Sandy Wu menyayangkan hilangnya budaya raon becak di Kota Tebingtinggi. "Dulu sewaktu saya masih sekolah, setiap hari raya Imlek kota pasti sangat ramai dilalui parade raon becak," kata Sandy kepada Okezone.

Halaman:
      
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Telusuri berita news lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement