JAKARTA - Kisruh antara taksi konvensional dengan online hingga berimbas ke aksi sweeping serta bentrokan yang dilakukan oleh kedua belah pihak, pada Selasa, 22 Maret 2016 menuai komentar dari berbagai pihak.
Pengamat Transportasi asal Universitas Indonesia Alvinsyah mengatakan, kisruh yang terjadi beberapa hari lalu hingga merugikan banyak pihak seharusnya sudah dapat diantisipasi oleh pemerintah. Menurut dia, kisruh tersebut ibarat bom waktu yang sebenernya sudah dapat diprediksi sejak lama.
"Masalah ini kan sudah dimulai sejak dua tahun lalu ya. Namun, sepertinya stakeholders tidak terlalu responsif. Jadi, hal ini sebenarnya sudah predictable, seperti bom waktu dan seperti fenomena gunung es, puncaknya kemarin Selasa," ujar Alvinsyah dalam pesan singkatnya kepada Okezone, Kamis (24/3/2016).
Alvinsyah menjelaskan, kisruh di pelayanan angkutan publik tersebut adalah cerminan ketidakhadiran negara untuk menyediakan layanan publik karena perkembangan tekhnologi yang membuat kemajuan dalam multi sektoral tidak dapat diantisipasi sejak awal oleh pemerintah.
"Ini cerminan ketidakhadiran pemerintah, sepertinya sebelum ada layanan dengan aplikasi yang menjadi korban dari kondisi chaotik ini adalah pengguna dan pengemudi karena harus menanggung beban biayanya adanya layanan semacam uber pengemudilah yang terkorbankan, sedangkan pengguna sedikit diuntungkan karena punya pilihan," paparnya.