Advertisement
Advertisement
Advertisement
INFOGRAFIS INDEKS
Advertisement

NEWS STORY: Ironi Utang Penjajah yang Luput di Buku Pelajaran

Randy Wirayudha , Jurnalis-Sabtu, 15 Oktober 2016 |08:05 WIB
NEWS STORY: Ironi Utang Penjajah yang Luput di Buku Pelajaran
Ilustrasi pendudukan Belanda di Indonesia di masa revolusi fisik (Foto: SINDO)
A
A
A

“Saat itu dalam KMB, Indonesia yang dipimpin (Mohammad) Hatta dalam perundingannya dengan Belanda terjadi deadlock (kebuntuan),” terang sejarawan Bonnie Triyana kepada Okezone, saat diskusi santai di kantornya di bilangan Jakarta Selatan beberapa waktu lalu.

“Tuntutan pembayaran (utang) 4,5 miliar gulden itu kemudian akhirnya disetujui Hatta. Diyakini, saat itu yang penting diakui dulu (kedaulatan Indonesia). Utang itu baru lunas 2003 zamannya (Presiden) Megawati Soekarnoputri,” imbuh pemimpin redaksi Majalah Historia tersebut.

Mau tidak mau ya harus diakui, bahwa itulah “mahar” bagi Belanda, untuk melepas koloni berharga mereka di timur jauh. Setidaknya jika mereka harus melepas Hindia Belanda, mereka enggan merugi. Begitu yang disampaikan sejarawan Lambert Giebels, 16 tahun silam.

Indië verloren, betekende niet ramspoed geboren. (Hindia hilang, bukan berarti tiba bencana). Belanda masih bisa menarik keuntungan dari bekas jajahannya, meski jajahannya itu sudah lepas,” ungkap tulisan Giebels di De Indonesische Injectie atau Sumbangan Indonesia.

(Randy Wirayudha)

News Okezone memberikan berita terkini dengan akurat dan terpercaya. Ikuti informasi terbaru tentang politik, sosial, dan peristiwa penting lainnya, langsung dari sumber yang terpercaya.

      
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Telusuri berita news lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement