HONG KONG - Bankir Inggris Rurik Jutting merincikan secara tenang pembunuhan yang dia lakukan terhadap dua perempuan Indonesia di Hong Kong. Dia menyalahkan pengaruh kokain yang menyebabkannya melakukan kejahatan tersebut.
Dalam pengadilan yang berlangsung Rabu 26 Oktober waktu Hong Kong, pria 31 tahun lulusan Cambridge itu menunjukkan video yang dimilikinya. Jutting mengatakan, enam pekan setelah kejadian tersebut, ia mulai membeli kokain langsung dari pengedar dan terpengaruh lebih jauh dalam obat-obatan, alkohol dan prostitusi.
Pada hari ketiga sidang pembunuhan, jaksa mengatakan Jutting mengonsumsi 10 gram kokain murni 30 persen dalam sehari. Dosis ini terlampau tinggi. Seorang ahli toksikologi mengatakan, mengonsumsi sekira tiga gram kokain saja bisa berakibat fatal.
Jutting mengaku telah membunuh seorang ibu tunggal Sumarti Ningsih (23) dan seorang WNI lainnya Seneng Mujiasih (26) di apartemennya dua tahun lalu. Ia membantah jika disebut bertanggung jawab secara langsung atas pembunuhan itu, namun mengakui pembunuhan tersebut terjadi secara tidak disengaja.
Dia menjelaskan video tersebut menunjukkan bagaimana kokain membuatnya merasakan dorongan seksual dan berfantasi untuk jangka waktu yang lama. Dia mengaku telah mencoba kokain sebelumnya tapi hanya sekilas.
Kemudian dalam pemeriksaan, saat menjelaskan pembunuhan pertama, Jutting membungkuk untuk menunjukkan bagaimana ia menggorok tenggorokan korban pertamanya, Ningsih, yang ditemuinya melalui Iklan baris salah satu laman internet.
"Awalnya saya tidak memotong cukup dalam, saya hanya memotong pembuluh darah di tenggorokannya ... dia berdarah di lantai. Lalu aku menarik dia ke kamar mandi dan menggunakan pisau untuk memotong sedalam yang aku bisa dan kemudian dia meninggal dalam beberapa menit," katanya sambil menjelaskan video dalam ruang sidang yang penuh sesak.
Jutting memfilmkan dirinya menyiksa dan membunuh salah satu korbannya yang merupakan bagian dari sebuah rekaman ponsel berdurasi empat jam. Dalam rekaman itu terlihat perubahan sikap Jutting antara menyombongkan diri, penyesalan dan menggambarkan kesenangan terhadap hubungan seksual secara brutal.