NEW YORK – Brexit seringkali dihubung-hubungkan dengan presiden terpilih Amerika Serikat Donald Trump. Ada sedikitnya tiga faktor yang membuat miliarder New York itu sangat lekat dengan Inggris, yakni kedekatannya dengan Nigel Farage provokator utama kampanye Brexit yang sempat jadi penasihat kampanye kepresidenannya, bisnis-bisnisnya dan di atas semua itu adalah darah yang diwarisi dari ibunya.
Mary Anne McLeod Trump adalah ibu kandung dari Donald Trump. Meski melahirkan anak-anaknya, menua dan tutup usia di New York, AS, tetapi tanah kelahiran dia sesungguhnya terletak di Inggris, tepatnya di Skotlandia.
Mary lahir dari pasangan nelayan di Desa Tong di pulau kecil Lewi, warisan bangsa Galilea yang terkenal di kitab-kitab suci Kristiani, pada 10 Mei 1912. Oleh karena itu, dia dididik dalam dua bahasa utama, yakni bahasa Ibrani dan bahasa Inggris. Ayahnya bernama Malcolm dan ibunya Mary.
Sebagai seorang anak pedesaan, Mary kecil terbilang cermelang. Beranjak dewasa pada 2 Mei 1930, dia merasa perlu mengembangkan sayapnya, Jadi lah, Mary muda berangkat dari Glasgow, Skotlandia ke New York.
Ia bertekad untuk menjadi warga negara AS dan berhasil sampai di Kota Apel Besar itu dengan selamat pada 11 Mei 1930. Saat itu, di saku Mary hanya ada uang USD50 atau kurang dari Rp670 ribu. Jadi dia tinggal dengan kakak perempuannya, Christina Matheson di Long Island dan bekerja sebagai pembantu rumah tangga selama empat tahun.
Bak kisah Cinderella, Mary dipertemukan dengan Fred Trump yang berdarah Jerman dalam suatu acara dansa. Cinta pada pandangan pertama itu membawa keduanya naik pelaminan pada Januari 1936.
Acara pernikahan mereka saat itu sangat sederhana, hanya dihadiri 25 tamu undangan di Hotel Carlyle, Manhattan. Padahal karier Fred sebagai pengusaha real estate sukses saat itu sudah semakin menanjak. Dari hasil pernikahan ini lahirlah lima putra-putri, yang tertua sampai yang termuda ialah Maryanne (1937), Fredrick Jr (1938), Elizabeth (1942), Donald (1946) dan Robert (1948).
Selama berumah tangga dengan Fred, Mary dikenal sebagai perempuan sosialita yang aktif dalam kegiatan amal. Ia meninggal pada usia 88 tahun di New York pada 7 Agustus 2000.
Beberapa waktu ini, sosok Mary kembali terngiang dalam benak Donald Trump. Kepada awak media, dia menyebut ketertarikannya pada Britania Raya dipengaruhi oleh sang ibu.
“Sangat menarik mengetahui tempat kelahiran ibu Anda secara spesifik. Membuat saya merasa seperti orang sini juga,” demikian Trump pernah berkata ketika mengunjungi kampung halaman ibunya sekaligus mengurus bisnis golfnya di sana.
Baru-baru ini, dia lagi-lagi membicarakan sang ibu kala bicara melalui sambungan telefon dengan Perdana Menteri Inggris Raya Theresa May. Dia menekankan kepada May bawah Inggris adalah negara yang sangat spesial baginya juga bagi AS.
“Mendiang ibu saya lahir di Skotlandia dan dia adalah pengagum berat Ratu Elizabeth. Tolong sampaikan salam saya pada Sang Ratu dalam kunjungan Anda ke Buckingham Palace selanjutnya. Jika Anda mau berkunjung kemari juga kabari saja saya,” ujarnya kepada May, seperti dikutip dari Scotsman, Minggu (20/11/2016).
(Silviana Dharma)
News Okezone memberikan berita terkini dengan akurat dan terpercaya. Ikuti informasi terbaru tentang politik, sosial, dan peristiwa penting lainnya, langsung dari sumber yang terpercaya.