DI pedalaman Karawang, Jawa Barat, tepatnya Desa Balongsari, Kecamatan Rawamerta, berdiri dengan gagahnya sebuah monumen peristiwa memilukan di masa revolusi fisik (1945-1949). Peristiwa dibantainya sekira 431 warga desa oleh serdadu Belanda.
Kampung Rawagede di Karawang yang kini terpecah jadi empat desa, pada suatu pagi ba’da Subuh 9 Desember 1947, mendadak mencekam. Hujan besar yang pagi itu jadi momen ratusan warga desa lelaki yang berusia 15 tahun ke atas, direnggut nyawanya secara paksa oleh pasukan Depot Speciale Troepen (DST) pimpinan Mayor Alphons Wijman.
Mereka menggeruduk Rawagede demi memburu para petarung republik. Terutamanya Kapten Lukas Kustaryo, salah satu perwira tentara republik dari Divisi Siliwangi yang sebelumnya, acap bikin ulah terhadap konvoi Belanda.
Kebetulan sebenarnya sehari sebelum Belanda menyerbu ke Rawagede dari arah Karawang Kota dengan menelusuri rel, beberapa gerilyawan mengadakan rapat di salah satu rumah di Rawagede. Selain ada Kapten Lukas Kustaryo, ada pula pimpinan Laskar Hisbullah-Sabilillah KH Noer Ali.
Tapi saat kejadian tentara Belanda masuk Rawagede, mereka sudah kembali ke pos-pos gerilya masing-masing. Satu per satu rumah-rumah warga digedor tentara Belanda.