2. Fulin, Kaisar Shunzhi (China)
Kaisar ketiga Dinasti Qing, Fulin yang juga dikenal dengan sebutan Kaisar Shunzhi, naik ke tampuk kekuasaan pada 1953, setelah ayahnya meninggal. Naik takhta di usia lima tahun, ia dianggap masih terlalu muda sehingga kerajaan mengeluarkan kebijakan bahwa kekuasaan sementara akan dipegang oleh paman Fulin, Dorgon dalam beberapa tahun ke depan.
Pada 1650, Dorgon meninggal dunia dan akhirnya Shunzhi naik tahta secara resmi di usianya yang ke-12 tahun. Khawatir akan ancaman musuh politik, Fulin membangun persekutuan kuat dengan pengadilan kerajaan beserta pejabat penting istana lainnya. Mereka menyusun upaya memerangi korupsi dan mengkonsolidasikan kerajaan di bawah kekuasaan Qing.
Kaisar Shunzhi (Foto: History)
Kaisar Fulin dikenang sebagai pemimpin berpikiran terbuka. Ia menghabiskan banyak waktu untuk mempelajari sains dan astronomi serta memberi toleransi atas perbedaan agama. Sekira 1652, Fulin menerima kunjungan Pimpinan Tibet, Dalai Lama ke-5, di Peking. Di saat yang sama, ia juga rajin berkomunikasi dengan misionaris Austria bernama Johann Adam Schall von Bell. Fulin menganggap Schall sebagai salah satu penasihat terdekatnya dan memanggil Schall dengan sebutan 'Kakek'.
Pada 1661, Fulin meninggal akibat penyakit cacar di usia 22 tahun. Putranya, Kaisar Kangxi memerintah lebih dari 60 tahun.