SELALU ada luka dan sisanya masih membekas jika sudah bicara masa perjuangan dan mempertahankan kemerdekaan. Kisah-kisah tragis pun bermunculan tentang kejahatan perang Belanda kala merongrong republik ini di era revolusi fisik (1945-1949).
Di berbagai pelosok nusantara, perlahan mulai terbuka cerita-cerita maupun tragedi kemanusiaan. Mulai dari Rawagede (Karawang), Takokak (Cianjur), Sulawesi Selatan, Tambun Sungai Angke (Bekas), Rengat (Riau), Padang (Sumatera Barat) dan tak ketinggalan, sebuah desa bernama Peniwen di Kecamatan Kromengan, Kabupaten Malang, Jawa Timur.
Jika peristiwa Rawagede berlangsung 1947, Tambun Sungai Angke 1948, peristiwa di Peniwen atau yang belakangan dikenal dengan sebutan “Peniwen Affairs”, terjadi di kuartal pertama 1949, tepatnya 19 Februari 1949.
Bila di Rawagede dan tempat-tempat lain itu warga sipil yang dihabisi, di Peniwen justru perawat remaja (kini Palang Merah Remaja/PMR) dan para pasiennya yang jadi korban, saat sepasukan Belanda menyerbu sebuah rumah sakit (RS).
Memang dari beberapa literatur, baik cetak maupun online, sudah mulai bermunculan kisah-kisahnya. Tapi pemaparan mendalam didapati penulis saat bertemu salah satu saksi hidupnya.
Wim Banu namanya. Seorang pensiunan karyawan BUMN PT Pertamina yang tinggal di sekitar Rawamangun, Jakarta Timur. Kontaknya didapati penulis dari aktivis dan Ketua Yayasan Komite Utang Kehormatan Belanda (KUKB) Jeffry Pondaag.
Lantas bersama rekan penggiat sejarah Beny Rusmawan, penulis menyambangi rumahnya. Tubuhnya sudah mulai lemah, karena untuk membukakan pintu saja harus minta tolong pada kedua cucunya.