“Itu kejadiannya (pembantaian) kira-kira habis (waktu salat) Ashar. Yang ditembakin orang laki semua. Banyak yang ngegeletak (mayat) di jalanan. Bapak dibunuh di bawah bale pas ngumpet sama temannya yang lagi bertamu sebelumnya,” ungkap Paisyah berkisah pada Okezone dengan logat Betawinya yang kental.
“Dulu katanya dikumpulin Belanda orang lakinya, katanya mau ngumumin lurah baru. Tapi tiba-tiba langsung gerodok (menembaki) aja itu tentara Belanda. Saya sendiri ngumpet di belakang rumah. Bapak ngumpet di kolong bale, ditarik-tarik tentara Belanda, dia enggak mau keluar. Langsung aja ditembak dari atas tengkuknya,” imbuhnya.
Pembantaian acak terhadap warga laki-laki di atas usia 15 tahun itu pun berlangsung hingga gelap. Malam hari baru terhenti suara-suara tembakan. Tersisa warga perempuan dan anak-anak mereka dan mereka pula yang harus menguburkan jasad-jasad keluarga masing-masing.
Korban Dikuburkan Seadanya
“Ya kita-kita ini yang nguburin, cuma di sekitar rumah. Itu juga enggak dalam nguburnya. Udah kayak nguburin kucing aja gitu. Karena saking banyaknya mayat, makanya sampe sekarang dinamain (Kampung) Tambun Sungai Angke, karena banyak bangke-nya (mayat),” sambung Paisyah.
“Waktu mau nguburin, masih ada itu tentara Belandanya. Ada yang bilang: ‘Urusin (mayatnya) ya! Kalau enggak diurusin, saya balik lagi, mau nyari lagi (korban)’. Gitu katanya,” tuturnya lagi sambil matanya mulai berkaca-kaca.
Ada alasan tersendiri kenapa Belanda menggeruduk kampung ini. Kalau pembantaian di Rawagede, dikatakan kala itu pasukan Belanda dari unit Depot Speciale Troepen (DST) pimpinan Mayor Alphons Wijman, alasannya memburu salah satu ‘pentolan’ republik di Karawang, Kapten Lukas Kustaryo.