Advertisement
Advertisement
Advertisement
INFOGRAFIS INDEKS
Advertisement

NEWS STORY: Tabir Peristiwa Tambun Sungai Angke, Rawagede-nya Bekasi

Randy Wirayudha , Jurnalis-Sabtu, 03 Desember 2016 |05:13 WIB
NEWS STORY: Tabir Peristiwa Tambun Sungai Angke, Rawagede-nya Bekasi
Jalan Utama Kampung Tambun Sungai Angke yang pada 16 Desember 1948 penuh mayat-mayat bergeletakan bekas pembantaian serdadu Belanda (Foto: Randy Wirayudha)
A
A
A

Nah kalau di Tambun Sungai Angke, disebutkan Ustad Saifulloh, salah satu cucu korban yang juga putra Hj Paisyah, Belanda mengira Kampung Tambun Sungai Angke yang saat kejadian bernama Kampung Gempol, acap dijadikan markasnya Laskar Hisbullah pimpinan KH Noer Ali.

“Itu yang juga jadi heran. Kampung-kampung yang lain itu aman-aman saja. Hanya kampung ini yang dimusuhin. Nah ada apa itu? Mungkin NICA pikir kampung ini markas Hisbullah pimpinannya KH Noer Ali,” timpal Ustad Saifulloh.

“Itu tentara Belanda datang 10-20 orang doang. Datangnya sore, situasinya saat itu juga gerimis. Mungkin memang kampung ini sudah diincar karena memang, ada salah satu rumah penduduk yang jadi tempat persinggahan Laskar Hisbullah,” tambahnya.

Diceritakan, penduduk itu juga katanya seorang “jawara” bernama Engkong (kakek) Kopang. “Jadi kalau malam (laskar) datang ke rumah Engkong Kopang. Sebelum Subuh pun biasanya sudah keluar (dari kampung). Itu yang mungkin jadi indikasi seolah-olah kampung ini jadi markas (Laskar) Hisbullah,” ujarnya lagi.

Sejumlah korban dikatakannya tidak hanya dikuburkan dekat rumah-rumah keluarga korban. Tapi juga sampai di dalam rumah, bahkan di dalam dapur. Beberapa lainnya berserakan dan tak ada yang mengenali.

“Sekitar tahun 1980an, sebagian (korban) yang dibantai di kampung ini, kalau yang kenal dan ada keluarganya saja makamnya dipindahkan ke tempat lain. Memang ada beberapa yang dipindah ke (Taman Makam Pahlawan) Bulak Kapal, Kota Bekasi sama tentara kita,” tandas Ustad Saifulloh.

Tapi tidak seperti di Rawagede atau di Padang atau tempat-tempat lain, tidak ada monumen, tidak ada pula pemakaman khusus para korban. Saat penulis di lokasi, tak ada pula penanda peristiwanya.

Hanya sekadar sedikit referensi buku yang diterbitkan Disjarah Kodam V/Jaya, serta kesaksian para keluarga korban.

(Randy Wirayudha)

News Okezone memberikan berita terkini dengan akurat dan terpercaya. Ikuti informasi terbaru tentang politik, sosial, dan peristiwa penting lainnya, langsung dari sumber yang terpercaya.

      
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Telusuri berita news lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement