“Pada tanggal 16 Desember 1948 (Hari Rabu) serdadu-serdadu NICA (Nederlandsch Indië Civil Administratie. red) datang ke Kampung Tambun Sungai Angke dengan melalui tipuan yang sangat halus,” begitu keterangan di buku Kodam V/Jaya itu.
“Berdalih hari itu akan dilakukan pemilihan Lurah (Mandor) dan bertempat di sebuah warung di desa itu. setelah penduduk terkumpul, berdentumanlah peluru-peluru dari setiap senapan dan senapan mesin serdadu Belanda yang tengah mengurung warung tersebut, rakyat yang ada di dalam gugur semua,” lanjut kutipan di buku itu.
Penasaran, penulis pun bermotor menelusuri wilayah utara Bekasi yang juga bersinggungan dengan area Jakarta Utara itu dengan dipandu Beny Rusmawan. Setelah melewati jalan kecil yang hanya muat satu mobil di tengah-tengah pematang sawah, sampailah penulis di rumah seorang saksi hidup yang juga anak korban, di sebuah perkampungan yang masih asri dan tenang.
Rumahnya tepat di samping sebuah masjid besar dan gedung sekolah Yayasan Attaqwa 26. Kebetulan, halaman masjid yang dulunya masih sekadar musala itulah yang jadi lokasi pembantaian warga oleh serdadu NICA.
Penuturan Saksi Hidup Sekaligus Keluarga Korban
Adalah Hj Paisyah, salah satu saksi hidup yang juga anak dari salah satu korban peristiwa Tambun Sungai Angke yang terjadi empat hari jelang Agresi Militer II Belanda (19 Desember 1948). Darinya, sedikit banyak diketahui bagaimana situasi mencekam kala itu di sebuah petang hari.
Wanita yang sudah sepuh berusia sekira 75 tahun itu, mengisahkan bahwa pada 16 Desember 1948 sore, serdadu Belanda datang dan mengumpulkan warga di halaman musala. Disebutkan, akan diadakan pemilihan lurah setempat.
Tapi kemudian yang muncul justru deru senapan dan peluru yang muntah bertubi-tubi menembaki warga. Beberapa mencoba lari, tapi pasukan NICA sudah lebih dulu mengepung kampung itu dan menghabisi siapapun yang terlihat.
Mayat-mayat pun bergeletakan di jalan-jalan di kampung tersebut. Sementara Inun, ayah Paisyah yang saat kejadian berusia sekira 11 tahun, sempat kabur ke dalam rumah, “dieksekusi” di bawah bale atau tempat tidur kayu di kamarnya.