Konflik Memanas, Gambia Dikepung Militer dan Ribuan Warga Mengungsi

Rufki Ade Vinanda, Okezone · Kamis 19 Januari 2017 05:42 WIB
https: img.okezone.com content 2017 01 19 18 1595233 konflik-memanas-gambia-dikepung-militer-dan-ribuan-warga-mengungsi-uVevJcAZQb.jpg Ribuan Warga Gambia Mengungsi Menuju Perbatasan Akibat Konflik. (Foto: Aljazeera)

BANJUL - Pertikaian politik yang terjadi di Gambia membuat ribuan warganya mengungsi dan meninggalkan tanah kelahiran mereka. Masyarakat Gambia dilaporkan menyeberangi perbatasan menuju ke negara tetangga, Senegal demi keselematan mereka.

Berdasarkan data UNHCR, terhitung sekira 26 ribu warga Gambia melarikan diri ke Senegal semenjak krisis politik terjadi. Warga Gambia mengungsi dengan berbagai cara di antaranya menggunakan jalur transportasi laut dan darat.

 Ribuan Warga Gambia Mengungsi Menggunakan Kapal Laut. (Foto: Aljazeera)

Dilaporkan terminal bus Bundung di Banjul dipadati masyarakat yang antre untuk pergi ke wilayah perbatasan.Tak hanya transportasi modern, beberapa warga Gambia memilih transportasi tradisional seperti menggunakan kuda untuk pergi mengungsi. Lainnya memilih melarikan diri menggunakan kapal laut.

 

Warga Gambia Bergerak Menuju Perbatasan dengan Menaiki Kuda. (Foto: Aljazeera)

Sebelumnya, situasi Gambia menjadi tidak kondusif setelah presiden petahana Yahya Jammeh yang kalah dalam pemilu menolak turun dari jabatannya. Keputusan keras kepala dari Jammeh tersebut telah dikecam negara-negara Afrika Barat yang tergabung dalam organisasi Masyarakat Ekonomi Afrika Negara-Negara Afrika Barat (ECOWAS). Tentara Senegal mengaku siap melancarkan invasi ke Gambia jika kesepakatan politik tak kunjung disepakati.

Sebagaimana diwartakan oleh Aljazeera, Kamis (19/1/2017) Juru Bicara Tentara Senegal, Kolonel Abdou Ndiaye mengaku, pasukannya telah bergerak ke perbatasan Gambia sejak Rabu 18 Januari 2017. Selain itu tentara Senegal juga nampak berjaga-jaga di wilayah Kaolack, utara Gambia dan Casamance, selatan Gambia.

"Kami siap sepenuhnya untuk menunggu dan berjaga hingga keputusan bersama dapat diambil. Jika tak kunjung ada kesepakatan yang dicapai maka kami siap melangkah dan bertindak," ujar Ndiaye.

Tak hanya tentara Senegal, pasukan keamanan dari negara lainnya juga turut berpartisipasi. Dilaporkan armada Angkatan Laut Nigeria juga tengah dalam perjalanan menuju Gambia.

Sebelumnya, Parlemen Gambia telah melakukan pemungutan suara untuk menentukan nasib konstitusi. Dalam pemungutan suara tersebut didapat keputusan bahwa masa jabatan Presiden Yahya Jammeh akan diperpanjang menjadi tiga bulan.

Keputusan perpanjangan masa jabatan tersebut diambil pasca-Presiden Yahya Jammeh menetapkan 90 hari situasi darurat di Gambia akibat adanya intervensi asing.

"Jumlah (negara yang mengintervensi Gambia) yang belum pernah terjadi sebelumnya dan ini adalah aksi campur tangan negara asing dalam urusan internal negara yang berlebihan," kata Jammeh dalam keterangan resminya.

Sementara itu, Jammeh kini dalam situasi terpojok. Dilaporkan dari pihak sekutunya, sebanyak delapan menteri telah memutuskan untuk mengundurkan diri dalam kurun waktu 48 jam. Dan tak lagi mendukung kepemimpinan Jammeh.

Presiden Yahya Jammeh diketahui telah memimpin Gambia selama 22 tahun lamanya. Gambia merupakan salah satu negara terkecil di Afrika dan telah memiliki dua penguasa sejak kemerdekaan pada 1965. (rav)

(rfa)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini