PERJALANAN perjuangan republik di masa revolusi, tidaklah se-hitam dan putih seperti yang ada di buku-buku pelajaran sekolah. Banyak rintangan menghadang dan tidak hanya dari pihak asing, melainkan dari bangsa sendiri.
Betapa tidak, pasalnya saat negeri kita tengah dirongrong sekutu yang diboncengi Belanda dan jadi pihak musuh untuk dilawan, di satu sisi Tentara Republik Indonesia (TRI, kini TNI) mesti berhadapan dengan elemen-elemen laskar yang susah diatur.
Seperti pasca-Perjanjian Linggarjati. Pemerintah dan TRI wajib mematuhi segala isi perjanjian itu yang sayangnya, enggan turut diikuti elemen perjuangan lain. Laskar Rakjat Djakarta Raja (LRDR) misalnya.
LRDR jadi salah satu elemen laskar yang ikut bercokol di front terdepan republik di timur Jakarta. Gesekan antara tentara republik dan laskar mencapai klimaksnya ketika Komandan Resimen Cikampek (membawahi wilayah Jakarta, Bekasi, Karawang, Cikampek) Letkol Suroto Kunto hilang secara misterius.
Tepatnya pada akhir November 1946, Letkol Suroto Kunto yang belum lama menggantikan Letkol Muffreini Mu’min sebagai Komandan Resimen Cikampek, Divisi Siliwangi, hilang bersama beberapa bawahannya saat hendak berperjalanan dengan mobil ke Karawang.