Makanya sebelum menggelar aksi sapu bersih, TRI lebih dulu minta pemakluman tentara Belanda agar tak dulu bikin ricuh, sementara TRI membereskan konflik dengan laskar.
“Sidik Brotoatmodjo kirim telegram ke Komandan Brigade II dari Divisi 7 Desember Kolonel Thompson di Bogor dan panglimanya di Jakarta” terang sejarawan Rushdy Hoesein dalam pemaparannya di sebuah seminar bertajuk ‘Bekasi di Masa Revolusi 1945-1949’ di Aula Asrama Haji, Bekasi, beberapa waktu lalu.
“Isinya dia ingin membersihkan areanya dan berharap Belanda tidak mengganggu. Habis itu pada April 1947, barulah TRI bergerak mengepung LRDR, BPRI dan KRIS. Mereka digempur TRI Siliwangi atas perintah Nasution. Banyak yang ditangkap, salah satunya bapak saya,” imbuh Rushdy.
Nah, sisanya yang berhasil kabur, seperti Panji, justru gabung Belanda ikut HAMOT (Hare Majesteit’s Ongeregelde Troepen) atau Laskar Sri Ratu. Pertempuran di antara bangsa sendiri ini sedianya sudah sempat diprediksi pemimpin Laskar Hisbullah, KH Noer Ali.
Petarung republik yang juga ulama ternama di utara Bekasi itu sempat tidak mendukung keputusan laskar-laskar di Bekasi-Karawang, untuk turut berpolitik dan mengambil tindakan sendiri di luar kebijakan pemerintah.