Saat itu, Letkol Suroto Kunto mestinya akan menginspeksi wilayahnya dalam rangka realisasi gencatan senjata dengan Belanda pasca-Perjanjian Linggarjati. Tapi tiba-tiba tak pernah lagi Suroto Kunto memunculkan batang hidungnya.
Mobil yang dikendarainya, ditemukan pada suatu dini hari di Warung Jambu, sekira 10 kilometer dari Kota Karawang. Diduga kuat, Suroto Kunto diculik dan dibunuh. Namun hal itu tak kunjung bisa dikonfirmasi karena jasadnya tak pernah ditemukan.
Jelas Panglima Divisi Siliwangi Mayjen Abdoel Haris (AH) Nasution heran dan berang. Tuduhan tentang pelaku penghilangan Suroto Kunto kemudian tertuju pada LRDR yang isinya, banyak para pemuda golongan kiri pengikut Tan Malaka.
Mendengar kabar hilangnya Suroto Kunto, Komandan Brigade Purwakarta Letkol Daan Jahja segera bergerak ke Karawang. Bersama anak buahnya, Daan Jahja menahan Darwis, salah satu pemimpin laskar dengan harapan, bisa “dibarter” seandainya Suroto Kunto diculik tapi masih hidup.
Tapi setelah beberapa lama, kabar tentang Suroto Kunto tak kunjung ada kejelasan. Darwis nyaris dihabisi kalau saja AH Nasution tak mencegahnya. Dampaknya, Daan Jahja justru “dimutasi” dari Brigade Purwakarta ke Tasikmalaya, sementara di Purwakarta diangkat Letkol Sidik Brotoatmodjo.
Situasinya begitu pelik karena di satu sisi, rongrongan Belanda terus terjadi di sejumlah titik garis demarkasi antara tentara Belanda dan TRI di pinggir timur Kota Jakarta, tepatnya antara Tambun sampai Karawang.