SERBUAN budaya asing ke negeri kita, tak pelak turut menggerus budaya dan kesenian negeri sendiri. Tidak hanya tergerus, beberapanya bahkan sudah hampir punah, seperti budaya dan kesenian Sinrilik asal Sulawesi Selatan (Sulsel).
Kesenian ini sedianya hanya ada di Kota Makassar dan Kabupaten Gowa. Tidak ada di wilayah Sulsel lain, seperti Toraja, Bugis atau Jeneponto.
Sinrilik sampai sekarang masih bisa “hidup” berkat kegigihan Sanggar Siradjuddin Gowa yang terus berusaha mempertahankan Sinrilik tetap ada sejak 1980-an.
“Sinrilik adalah kesenian tutur. Dulu keberadaannya sulit bisa diterima masyarakat. Kini hampir punah. Padahal Sinrilik punya kekuatan luar biasa sebagai wadah inspirasi, informasi bagi pemuda-pemudi,” ungkap Rukantiana Krisnaningsih, pemimpin sanggar Siradjuddin Gowa.
Sinrilik sebelumnya terus dipertahankan almarhum Siradjuddin Bantang yang tak lain adalah mendiang suami Rukanti. Kesenian ini bahkan sudah coba dipentaskan di luar negeri.
“Sejak 1980an, Sinrilik sudah dipentaskan sampai ke Afrika Selatan dan Kanada untuk menjemput Kapal Phinisi yang ke sana. Penyambutannya luar biasa. Tapi ketika kembali ke negeri sendiri, Sinrilik seolah sulit mendapat tempat di hati masyarakat,” imbuhnya.
“Dalam Sinrilik, padahal berisi informasi, inspirasi, pesan yang bijak sebagai pedoman generasi muda. Pesan dan nasihat dalam setiap bertutur. Saya berharap, tolonglah (Seni Sinrilik) disentuh. Jangan sampai kecolongan negara lain,” sambung Rukanti.