Kembali ke soal blusukan Bung Karno, suatu waktu pascaperistiwa G30S, Bung Karno masih punya niat kuat menyapa masyarakat di wilayah Cimacan hingga Ciawi di Bogor. Sayangnya, masyarakat di sana tak lagi mencintai Bung Karno seperti yang sudah-sudah.
Masyarakat di sana sudah terdoktrin bahwa Bung Karno sudah seperti “Lelepah” saja. Orang mati yang mestinya tidak lagi bergerak alias mayat hidup. Makanya masyarakat ketakutan dan menutup pintu rumah saat Bung Karno blusukan ditemani Sunario, seorang perwira menengah di Resimen II Polisi Militer Gadog, Ciawi, Bogor.
Dari Sunario ini pula Peltu Suwarto (kini mayor purnawirawan) mendapatkan cerita itu, kala Suwarto menjenguk Sunario yang tengah sakit di. Juga seperti saat Bung Karno secara tidak sengaja membuat seorang tukang sate ditangkap tentara.
Ya, romantika Bung Karno dengan tukang sate dengan ujung cerita yang buruk itu, tak terlepas dari imbas pengintaian Satgas Pomad. Ke mana-mana, Bung Karno mesti dipantau, hingga dicari tahu siapa orang yang dia temui saat blusukan.
Saat blusukan ke Ciawi, Bogor itu pula Bung Karno sempat mampir ke sebuah warung sate untuk menjawab “keluhan” perutnya yang sudah lapar. Tapi sayangnya, keesokan paginya selepas melayani Bung Karno, tukang satenya diciduk tentara dari Kodim setempat!
Entah siapa nama tukang sate nahas itu karena harus ditangkap dan diinterogasi tentara hanya karena melayani Bung Karno yang mampi ke warung satenya. Oleh karenanya, Bung Karno pun dianjurkan Sunario untuk stop dulu menemui masyarakat lewat blusukan.
“Terima kasih atas nasihatmu!,” cetus Bung Karno singkat kepada Sunario
Jelang kejatuhannya, Bung Karno memang seolah senang jajan di luar. Betapa tidak, makanan “sekelas” nasi dan kecap saja sampai tidak diberikan pelayan ketika Bung Karno masih tinggal di Istana Merdeka, Jakarta.