PENYIHIR merupakan sosok yang ditakuti pada era ketika ilmu pengetahuan belum berkembang banyak sehingga masyarakat lebih percaya dengan gosip-gosip. Histeria masyarakat mengenai penyihir memunculkan orang-orang yang beralih profesi dan memilih menjadi seorang penyihir.
Perkembangan perburuan penyihir paling terkenal terjadi di Inggris ketika negara tersebut dipimpin oleh Raja James I. Sebagaimana dikutip dari The Vintage News, Selasa (16/6/2017), James sangat menyukai hal-hal yang berbau mistis bahkan ia merilis buku berjudul ‘Daemonologie’ yang membahas mengenai sihir serta ilmu hitam.
Pada 1604, James berhasil mendesak Parlemen Inggris untuk mengeluarkan Statuta Penyihir yang melegalkan dijatuhkannya hukuman mati pada individu yang dituding sebagai penyihir. Keluarnya statuta ini menyebabkan ketakutan di masyarakat mengenai keberadaan penyihir dan memicu adanya histeria masal.
Tudingan-tudingan dengan mudah dilontarkan kepada orang-orang yang diklaim sebagai penyihir. Hal ini dimanfaatkan oleh pihak yang mengatasnamakan diri sebagai pemburu penyihir. Salah satu pemburu penyihir yang paling terkenal pada saat itu adalah Matthew Hopkins.
Hopkins awalnya adalah seorang pengacara dengan latar belakang purian yang berasal dari Manningtree. Pada 1644, ia kemudian pindah ke Essex. Tak diketahui mengapa ia bisa tertarik memburu penyihir namun Hopkins disebut sebagai orang yang bekerja untuk menghancurkan berbagai hal yang diduga berhubungan dengan iblis.