RUU itu adalah peraturan satu kali yang memungkinkan Akihito untuk mengundurkan diri, tanpa ketentuan untuk kaisar masa depan. Rancangan tersebut juga tidak mengacu pada isu kontroversial mengenai perubahan sistem agar wanita mewarisi tahta, atau tinggal di keluarga kekaisaran saat menikah meski pun partai politik sedang mendiskusikan sebuah resolusi terpisah mengenai topik tersebut, tulis media lokal Jepang.
Kedua langkah tersebut telah disarankan sebagai cara untuk mengatasi kekurangan ahli waris laki-laki dan sekelompok bangsawan yang menyusut pada umumnya, sebuah masalah yang kembali mencuat pada minggu ini melalui kabar bahwa cucu perempuan tertua Akihito akan menikahi warga sipil, dan kemudian dia pun juga harus menjadi warga Jepang biasa.
Hanya ada empat ahli waris dalam garis suksesi yaitu dua anak laki-laki paruh baya Akihito, adik laki-laki Akihito, dan Hisahito, cucu Akihito yang masih berusia 10 tahun. Putra mahkota memiliki satu anak perempuan remaja, Aiko, yang tidak dapat mewarisi tahta.
Pada 2005, dengan harapan pewaris laki-laki memudar, maka Perdana Menteri Junichiro Koizumi bersiap untuk menantang UU tahun 1947 yang membatasi suksesi keturunan laki-laki dari seorang kaisar. Namun proposal tersebut ditangguhkan setelah Hisahito dilahirkan satu tahun kemudian.
(Rifa Nadia Nurfuadah)