Advertisement
Advertisement
Advertisement
INFOGRAFIS INDEKS
Advertisement

NEWS STORY: Moeffreni & Perjalanan Putra Betawi dari Meja Redaksi hingga Patriot Revolusi

Randy Wirayudha , Jurnalis-Sabtu, 27 Mei 2017 |10:07 WIB
NEWS STORY: Moeffreni & Perjalanan Putra Betawi dari Meja Redaksi hingga Patriot Revolusi
Letnan Kolonel Moeffreni Moe'min (kiri), Komandan Resimen V Jakarta Raya/Cikampek & Kepala Staf-nya Soeroto Koento (Foto: Repro Buku Jakarta-Karawang-Bekasi dalam Gejolak Revolusi)
A
A
A

Skema keamanannya dikoordinasikan Moeffreni sebagai Ketua BKR Jakarta dengan para Pemuda Menteng 31, Prapatan 10, kepolisian, Pemuda Kereta Api, Pemuda Pos dan Telekomunikasi, Barisan Pelopor, Laskar Jakarta, Laskar Klender, Pemuda Sulawesi, serta pemerintah daerah.

Moeffreni kemudian turut membentuk dua peleton anggota penjemput Bung Karno dari Pejambon, sekaligus mengawal Bung Karno langsung menuju podium, hanya bermodalkan granat dan pistol. Ketika TKR dibentuk 5 Oktober 1945, nama Moeffreni juga kembali dipercaya jadi “panglima” TKR Jakarta Raya dengan menyandang pangkat letkol.

TKR di Jakarta kemudian dibentuk Resimen V yang sayangnya atas hasil kesepakatan pemerintah republik dengan sekutu, mulai 19 November 1945 Jakarta harus dijadikan kota diplomasi dengan garis demarkasi di Kali Cakung.

Resimen V harus “hijrah” dengan memilih markas di Cikampek dengan wilayahnya yang tetap meliputi Jakarta, Bekasi, Karawang dan Cikampek.

Bekasi Daerah Panas

Bekasi yang wilayahnya tepat bersinggungan dengan Kali Cakung, kemudian dianggap sebagai gerbang republik. Tak heran kemudian sejumlah laskar dan kelompok pemuda rakyat lainnya membuat Bekasi sesak dengan para patriot.

Sayangnya tidak semua sejalan dengan instruksi pemerintah. Pun begitu, setidaknya elemen-elemen laskar dan badan perjuangan lain di luar TKR bisa “dirangkul” Letkol Moeffreni, sampai jabatannya digantikan Soeroto Koento, eks Kepala Staf Resimen V.

“Beda dengan Moeffreni, Soeroto Koento itu kekeuh dengan kemiliteran. Jadi enggak terlalu bisa kompromi dan merangkul seperti Moeffreni. Makanya kemudian dia diculik, tidak lama setelah gantiin Moeffreni dan hilang dengan dugaan dibunuh elemen laskar,” timpal penggiat sejarah komunitas Front Bekassi Beny Rusmawan kepada Okezone.

Belum lagi berbagai insiden yang terjadi di Bekasi alias Front Timur Jakarta kala itu. Mulai dari pembantaian serdadu Kaigun (Angkatan Laut Jepang) di tepi Kali Bekasi, hingga pembantaian yang nyaris serupa terhadap serdadu sekutu yang sempat selamat pasca-Pesawat Dakota jatuh di Rawagatel, Cakung.

      
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Telusuri berita news lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement