Advertisement
Advertisement
Advertisement
INFOGRAFIS INDEKS
Advertisement

Simak! Fakta Seputar Kriminalitas di Jakarta, dari Waktu Kejahatan Meningkat hingga Tempat Paling Rawan

Koran SINDO , Jurnalis-Sabtu, 02 September 2017 |13:56 WIB
Simak! Fakta Seputar Kriminalitas di Jakarta, dari Waktu Kejahatan Meningkat hingga Tempat Paling Rawan
Ilustrasi.
A
A
A

JAKARTA - DKI Jakarta, ibu kota negara, belum aman dari aksi kejahatan. Perampokan, pembunuhan, pembegalan, dan pemerkosaan, masih mengintai warga.

Karena itu, kewaspadaan di tempat-tempat rawan perlu ditingkatkan. Berdasarkan catatan Polda Metro Jaya, terdapat puluhan titik rawan kriminalitas di Jakarta. Di Jakarta Pusat seperti perempatan Coca-cola, Stasiun Senen; di Jakarta Barat seperti Taman Sari, Tambora, kolong jembatan Grogol; Terminal Pulo Gadung, Jakarta Timur; dan Tanjung Priok, Jakarta Utara.

Sepanjang 2016 angka kejahatan menurun dibanding tahun sebelumnya, tapi waktu kejahatan (crime clock) mengalami percepatan selama 8 detik. Pada 2015, waktu kejahatan 12 menit 26 detik menjadi 12 menit 18 detik.

Artinya, pada 2016 setiap 12 menit 18 detik terdapat satu kasus kejahatan di wilayah hukum Polda Metro Jaya. Secara umum, situasi keamanan dan ketertiban masyarakat (kamtibmas) mengalami penurunan angka kriminalitas. Dari 44.304 kasus pada 2015 menjadi 42.149 kasus pada 2016 atau turun sekitar 3%. Meski demikian, pada tahun lalu terjadi kasus-kasus menonjol, seperti perampokan yang mengalami kenaikan 12% dari 2015. Kasus pencurian dengan kekerasan (curas) sebanyak 641 kasus (2015) menjadi 719 kasus (2016).

(Baca juga: Tiga Hari Terjadi 2 Penembakan, Mabes Polri: Segera Lapor kalau Lihat Senpi Rakitan!)

Meski terjadi peningkatan kasus curas, terdapat penurunan angka kriminalitas pada kasus pencurian dengan pemberatan (curat), penganiayaan berat (anirat), dan pembunuhan. Kasus curat menurun 9,96% dari 1.004 kasus pada 2015 menjadi 904 kasus pada 2016.

Kasus pembunuhan menurun 4 kasus atau 5% dari 75 kasus pada 2015 menjadi 71 kasus pada 2016. Pada Juni 2017, publik digemparkan oleh kasus perampokan yang menimpa pengusaha Davidson Tantono di SPBU Jalan Daan Mogot, Cengkareng, Jakarta Barat. Korban dibuntuti seusai mengambil uang di bank, kemudian ditembak dari jarak dekat di SPBU. Pelaku membawa kabur Rp300 juta. Setelah beberapa hari polisi melakukan pengejaran akhirnya pelaku berhasil ditangkap.

Kriminolog Universitas Indonesia Ikraq Sulhin menilai, secara kualitas aksi kejahatan di wilayah Jakarta dan sekitarnya mengalami peningkatan. Para pelaku kejahatan nekat menggunakan senjata api untuk melumpuhkan korbannya. Ini tak lepas dari peredaran senjata api di pasar gelap, mulai dari senjata sewaan hingga senjata ilegal.

Halaman:
      
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita news lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement