nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

6 Fakta tentang Aung San Suu Kyi, Peraih Nobel Perdamaian yang Bungkam soal Konflik Rohingya

Putri Ainur Islam, Jurnalis · Rabu 06 September 2017 06:28 WIB
https: img-z.okeinfo.net content 2017 09 05 18 1769871 6-fakta-tentang-aung-san-suu-kyi-peraih-nobel-perdamaian-yang-bungkam-soal-konflik-rohingya-lfNm8rRGC8.jpg Aung San Suu Kyi. (Foto: Reuters)

SIAPA yang tidak kenal dengan peraih Nobel Perdamaian 1991, Aung San Suu Kyi. Tokoh prodemokrasi yang berasal dari Myanmar ini merupakan orang yang berpengaruh ketika pembantaian dilakukan oleh diktator Myanmar pada masanya, U Ne Win. Dia menentang apa yang dilakukan oleh U Ne Win dan memulai sebuah gerakan tanpa kekerasan untuk mencapai demokrasi dan hak asasi manusia.

Dengan pengalamannya tersebut, ia dianggap bisa mendamaikan suasana panas di Myanmar. Apalagi saat ini eskalasi konflik kemanusiaan di Negara Bagian Rakhine, Myanmar, kembali naik hingga membuat sedikitnya 125 ribu Muslim Rohingya melarikan diri ke Bangladesh. Namun sayang, Suu Kyi tetap bergeming mengenai konflik Rohingya yang sudah menelan puluhan ribu korban tersebut. Malah di beberapa kesempatan, Suu Kyi terkesan menghindar ketika ditanyai soal konflik Rohingya.

Meski begitu, pemimpin de facto Myanmar ini tetap dikagumi dan dipuja di negaranya. Berikut beberapa fakta yang didapat dari beberapa sumber oleh Okezone.

1. Memiliki Orangtua yang Disegani dan Ternama

Aung San Suu Kyi lahir di Yangon pada 19 Juni 1945. Ayahnya yang bernama Aung San merupakan seorang jenderal dan pahlawan di Myanmar. Jasanya begitu besar terhadap Myanmar dalam meraih kemerdekaan dari Inggris. Ibu Suu Kyi, Khin Kyi, merupakan seorang Duta Besar Myanmar untuk India pada 1960.

2. Mengenyam Pendidikan di Luar Negeri

Suu Kyi diketahui berkuliah di jurusan politik di New Delhi, India, pada 1964. Setelah itu ia melanjutkan studinya di bidang filsafat, politik, dan ekonomi di Oxford University pada 1969. Ia juga mendapatkan gelar PhD di London University pada 1985. Suu Kyi juga sempat bekerja di PBB selama tiga tahun dan berkorespondensi dengan sejarawan Inggris dan pakar Bhutan, Michael Aris. Keduanya pun kemudian menikah pada 1972. Mereka memiliki dua anak, Alexander dan Kim, dan menghabiskan 1970-an dan 80-an di Inggris, Amerika Serikat, dan India.

3. Presiden Myanmar Sesungguhnya

Dilansir dari Biography, Rabu (6/9/2017), Suu Kyi kembali ke Myanmar dari luar negeri pada 1988, ketika terjadi pembantaian kepada pelaku protes yang melawan U Ne Win dan peraturannya yang ironis. Suu Kyi berani berbicara secara terbuka untuk menentang U Ne Win, dengan isu-isu demokrasi dan hak asasi manusia. Tidak butuh waktu lama bagi junta untuk melihat usahanya. Pada Juli 1989, junta menahan Suu Kyi sebagai tahanan rumah dan memutus akses komunikasi dengan dunia luar.

Junta menempatkan Suu Kyi yang karismatik dan populer di bawah tahanan rumah pada Juli 1989 karena dianggap membahayakan negara. Bahkan tanpa dia, NLD, partai miliknya, memenangkan 392 dari 485 kursi parlemen dalam pemilihan pertama Myanmar dalam hampir 30 tahun. Namun sayang, pihak militer menolak untuk menyerahkan kekuasaan.

Suu Kyi baru bergabung ke parlemen untuk pertama kalinya pada April 2012 setelah NLD memenangkan banyak kursi dalam Pemilu 2012. Hal tersebut pun membuat ia terpilih sebagai pemimpin oposisi. Ia tidak bisa memimpin Myanmar langsung dikarenakan memiliki pasangan dan anak berkewarganegaraan asing. Selain itu, Suu Kyi juga menjabat sebagai penasihat negara pada 2016 hingga sekarang. Suu Kyi juga menjabat sebagai Menteri Luar Negeri, Energi, Pendidikan, dan menjadi Menteri di Kantor Presiden. Oleh karena itu, meski ia tak memimpin Myanmar secara langsung, ia memiliki pengaruh besar terhadap kebijakan-kebijakan di Myanmar.

4. Mendapatkan Nobel Perdamaian pada 1991

Karena aksinya dalam meraih demokrasi di negaranya tanpa kekerasan dalam menentang saat berada di bawah rezim U Ne Win, Suu Kyi diberi penghargaan Nobel Perdamaian pada 1991. Suu Kyi bergabung bersama masyarakat sipil dan memimpin mereka untuk melawan pemimpin Myanmar untuk meminta perdamaian. Ketika hari penobatan, ia tak hadir karena khawatir junta tidak mengizinkannya kembali ke Myanmar. Putranya yaitu Kim, mewakilinya ke Oslo untuk menerima penghargaan. Aung San Suu Kyi baru menyampaikan pidato penerimaannya 20 tahun setelah ia menerima nobel.

Suu Kyi saat pidato atas penerimaan Nobel Perdamaian (Foto: Reuters)


5. Mendapatkan Penghargaan di Berlin

Selain Nobel Perdamaian dunia, pada 2014 Suu Kyi juga mendapatkan penghargaan Willy Brandt yang dihibahkan oleh Partai Sosial Demokrat (SPD) di Jerman kepada Suu Kyi. Menurut beberapa sumber, nama penghargaan tersebut diambil dari nama mantan kanselir Jerman Barat terakhir yang dikenal sebagai pejuang demokrasi.

6. Peraih Nobel Perdamaian yang Tak Membawa Kedamaian

Konflik Rohingya meluap sejak 2012. Banyak orang yang mengatakan bahwa hanya Suu Kyi yang dapat meredakan konflik tersebut. Namun sayang, Suu Kyi tidak melakukan hal yang berarti selama konflik itu terjadi. Justru ia terkesan bungkam ketika ditanya mengenai langkah apa yang akan ia buat. Banyak pihak mendorong PBB agar mencabut Nobel Perdamaian yang ia dapat pada 1991 tersebut karena dianggap tidak pantas mendapatkannya.

Dari berbagai pengalaman yang telah Aung San Suu Kyi lewati, tidak bisa dimungkiri bahwa Suu Kyi merupakan wanita hebat yang tak sekadar mengubah Myanmar, namun juga menjadi inspirasi bagi dunia. Kini dunia menunggu aksinya terhadap konflik Rohingya mengingat selama ini Suu Kyi menekankan arti demokrasi dan hak asasi manusia di setiap pidatonya. (pai)

Aung San Suu Kyi dan Jenderal Min Aung Hlaing (Foto: Reuters)

1
3

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini