Advertisement
Advertisement
Advertisement
INFOGRAFIS INDEKS
Advertisement

Kampung Batik Girilayu, Saksi Panjang Perjalanan Batik Pasca-Terbelahnya Kerajaan Mataram

Bramantyo , Jurnalis-Selasa, 03 Oktober 2017 |07:41 WIB
Kampung Batik Girilayu, Saksi Panjang Perjalanan Batik Pasca-Terbelahnya Kerajaan Mataram
Perajin batik di Kampung Girilayu, Kecamatan Matesih, Karanganyar, tengah membuat batik. (Foto: Bramantyo/Okezone)
A
A
A

KARANGANYAR – Kota Solo tak hanya terkenal sebagai kota budaya. Kota tempat kelahiran Presiden Joko Widodo (Jokowi) ini pun sejak zaman Kerajaan Kraton Kasunanan serta Pura Mangkunegaran sudah dikenal sebagai kota batik. Di kota inilah beragam corak batik bisa ditemukan dengan mudah. Bahkan, ada satu daerah di bawah lereng Gunung Lawu, sejak dahulu hingga saat ini, tetap mempertahankan produksi batik.

Kampung itu bernama Girilayu. Kampung ini terletak di Kecamatan Matesih, Karanganyar, Jawa Tengah. Keindahan batik Girilayu sudah terkenal sejak puluhan tahun lalu. Girilayu juga salah satu sentra industri perajin batik yang ada turun-temurun. Sentra pembatikan di Desa Girilayu sudah ada sejak zaman Mangkunegara I.

Sejarah Girilayu yang letaknya tak begitu jauh dengan makam almarhum Presiden Ke-2 RI Soeharto merupakan salah satu desa pembatik keraton yang berpusat di Keraton Mangkunegaran. Karena itulah, hingga saat ini motif batik Girilayu dipengaruhi gaya membatik khas Mangkunegaran, baik teknik pembuatan, bahan, pewarnaan, sampai motif yang digunakan. Motifnya lebih kreatif dibandingkan batik Keraton Surakarta.

(Baca Juga: HARI BATIK NASIONAL: Ini Harapan Pengrajin kepada Generasi Muda)

Saat Okezone menginjakan kaki di Desa Girilayu, terlihat kesibukan warga yang tengah membatik. Di desa ini hampir tiap rumah memproduksi batik. Dari literatur yang terpasang di Desa Girilayu, pasar batik di Girilayu mencapai puncak keemasan pada 1975, saat itu jarit batik sangat digemari masyarakat.

Salah satu tokoh yang berjasa mengenalkan jarit batik adalah ibu negara saat itu, yakni Ibu Tien Soeharto. Kala itu, almarhumah Ibu Tien Soeharto selalu mengenakan busana kebaya lengkap dengan jarik dan selendangnya dalam segala kesempatan.

Wahyuni, salah satu perajin batik dari Girilayu menyebutkan, saat ini perkembangan batik baik motif maupun penggunanya sudah berkembang pesat. Jika batik zaman dahulu bertahan dengan pakemnya motif klasik, tetapi seiring berkembangnya waktu pengrajin batik tulis di Girilayu juga berani bereksperimen dengan mengembangkan batik corak kontemporer.

"Sekarang motif baru bermunculan sesuai dengan idenya. Namun, tidak menggeser keberadaan motif batik tradisional yang masih bertahan," jelas Wahyuni saat berbincang dengan Okezone, Senin (2/10/2017).

Halaman:
      
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita news lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement