Advertisement
Advertisement
Advertisement
INFOGRAFIS INDEKS
Advertisement

Kampung Batik Girilayu, Saksi Panjang Perjalanan Batik Pasca-Terbelahnya Kerajaan Mataram

Bramantyo , Jurnalis-Selasa, 03 Oktober 2017 |07:41 WIB
Kampung Batik Girilayu, Saksi Panjang Perjalanan Batik Pasca-Terbelahnya Kerajaan Mataram
Perajin batik di Kampung Girilayu, Kecamatan Matesih, Karanganyar, tengah membuat batik. (Foto: Bramantyo/Okezone)
A
A
A

Inovasi motif batik juga dikembangkan agar bisa mengikuti mode dan perkembangan zaman. Saat ini para pengrajin batik tulis di Girilayu, Kecamatan Matesih, Karanganyar, mulai kenalkan motif batik khas daerah Girilayu berupa motif durian dan manggis.

(Baca Juga: Lima Tokoh Dunia yang Terpikat Pesona Batik, dari Barack Obama sampai Nelson Mandela)

Selain motif buah, pengrajin menghasilkan motif Girilayu dan Karanganyar, contohnya adalah monumen tri dharma. Harga jualnya juga beragam mulai Rp40-50 ribu per lembar untuk selendang dan Rp250.000-700.000 untuk kain jarit.

(Foto: Bramantyo/Okezone)

Wahyuni mencontohkan motif kuno seperti truntum, kencar-kencar, mahkota raja, kembang kanthil, wahyu tumurun harga jualnya bisa mencapai Rp2 juta per lembarnya tergantung rumitnya motif dan lamanya pembuatan.

"Seperti batik ini, waktu pembuatannya memerlukan waktu hingga satu bulan lebih," ungkap Wahyuni.

Pemasaran batik hasil perajin batik Girilayu tidak hanya di sekitar desa sambil menunggu pembeli yang datang. Mereka juga menggunakan metode jemput bola dengan mengikuti beragam pameran UKM yang diselenggarakan, baik di wilayah Kabupaten Karanganyar sampai ke luar Karanganyar.

Salah satu pemerhati batik yang masih ada keturunan Pura Mangkunegaran, Sri Harjanto mengatakan, kampung batik Girilayu merupakan satu-satunya kampung batik yang menandai bangkitnya batik saat zaman kerajaan.

Pasalnya, kala dibuatnya perjanjian Giyanti pada 13 Februari 1755 di Karanganyar saat itu, tak hanya membagi Kerajaan Mataram menjadi dua wilayah, yaitu wilayah Kasunanan Surakarta dan Kasultanan Yogyakarta.

Namun, perjanjian yang dibuat di bawah lereng Gunung Lawu kala itu pun, ungkap Sri Harjanto, juga membagi kekayaan Mataram. Salah satunya adalah kekayaan busana Kerajaan. Busana identitas Mataram saat masih masa jayanya seluruhnya diboyong oleh Pangeran Mangkubumi, termasuk batik (tulis).

"Saat itu tak hanya wilayah yang dibagi dua, tapi kekayaan milik Mataram juga dibagi dua. Seperti senjata pusaka, gamelan, berikut kereta tunggangan dibagi rata. Tapi untuk busana, seluruhnya dibawa oleh Pangeran Mangkubumi yang kemudian bergelar Hamengku Buwono I dan menjadi Raja Yogyakarta pertama. Praktis, Keraton Kasunanan tak memiliki batik khas," papar Sri Harjanto, saat ditemui di galeri batik miliknya di Kampung Batik Laweyan, Solo.

Halaman:
      
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita news lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement