Menyadari Keraton Kasunanan tak memiliki busana khasnya dikarenakan seluruh busana kekayaan Mataram diboyong ke Yogyakarta, Sang Raja, Paku Buwono III berpikir keras untuk menemukan busana khas bangsawan Keraton Kasunanan. Atas dasar itulah, Paku Buwono III membuat revolusi kebudayaan dengan mengundang para pembatik terbaik masuk keraton untuk membuat batik gagrak Surakarta atau batik khas khas Keraton Surakarta.
“Sinuhun Paku Buwono III membuat revolusi budaya. Karena Sinuhun menyadari Keraton Kasunanan tidak memiliki busana khas keraton sehingga Sinuhun mengundang pembatik terbaik masuk keraton untuk membuat batik khas Kasunanan Surakarta, batik yang kelak menjadi ciri khas batik Surakarta,” jelasnya.
(Baca Juga: Hari Batik Nasional, Ini Sepuluh Motif Batik Populer dari Berbagai Daerah)
Melalui revolusi budaya yang digagas oleh Sinuhun Paku Buwono III itulah beberapa motif khas Keraton Kasunanan lahir. Di antaranya motif-motif yang berkembang saat itu, ungkap Sri Harjanto, wahyu tumurun, lereng, serta bermacam motif parang, dan motif sida (sida mukti, sida luhur, dan sida drajad).
"Karena adanya sebuah larangan saat itu, masyarakat umum tidak boleh menggunakan batik keraton, mendorong munculnya industri rumahan tersebar di empat wilayah Surakarta, yaitu Karanganyar, Sragen, Sukoharjo, dan Wonogiri. Lewat pemikiran masyarakat itu sendirilah akhirnya muncul beragam motif batik, antara lain ceplok, gringsing, tambal, kawung, wonogiren, bondet,"terangnya.
Menurut Sri, antara batik khas Solo dengan batik khas Yogyakarta memiliki latar belakang berbeda. Latar batik Solo lebih didominasi dengan warna sogan (cokelat). Nama sogan ini berhubungan dengan penggunaan pewarna alami yang diambil dari batang kayu pohon soga tingi.
“Sogan ini kombinasi warna cokelat muda, cokelat tua, cokelat kekuningan, cokelat kehitaman, dan cokelat kemerahan. Itu ciri khas batik Surakarta dan Yogyakarta,” paparnya.
Bahkan untuk sogan antara Solo dan Yogyakarta itu juga berbeda jauh. Bila sogan Yogyakarta dominan berwarna cokelat tua kehitaman dan putih, sedangkan sogan asli Solo didominasi warna cokelat-oranye dan cokelat.
“Ada beberapa motif batik khas Solo yang tidak dimiliki Yogyakarta, antara lain Sekar Jagat, Sidoasih, Sidoluruh, Parang Kusumo, Truntum dan Kawung. Inilah yang pada akhirnya memunculkan motif-motif batik modern saat ini," pungkasnya.
(Erha Aprili Ramadhoni)
News Okezone memberikan berita terkini dengan akurat dan terpercaya. Ikuti informasi terbaru tentang politik, sosial, dan peristiwa penting lainnya, langsung dari sumber yang terpercaya.