nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Unjuk Rasa Kasus Pembunuhan Wartawan Anti-Korupsi, Demonstran Tuntut Komisioner Polisi Malta Dicopot

Wikanto Arungbudoyo, Jurnalis · Senin 23 Oktober 2017 09:01 WIB
https: img.okeinfo.net content 2017 10 23 18 1800450 unjuk-rasa-kasus-pembunuhan-wartawan-anti-korupsi-demonstran-tuntut-komisioner-polisi-malta-dicopot-WGUMvkBXah.JPG Ribuan warga Malta turun ke jalan untuk berunjuk rasa menuntut pengungkapan kasus pembunuhan Daphne Caruana Galizia (Foto: Darrin Zammit Lupi/Reuters)

VALLETTA – Pembunuhan terhadap wartawan investigasi terkemuka, Daphne Caruana Galizia, membuka mata dunia terhadap apa yang terjadi di Malta, sebuah negara kecil di Laut Tengah. Atensi dunia internasional dimanfaatkan ribuan orang untuk berunjuk rasa pada Minggu 22 Oktober.

BACA JUGA: Tragis! Mobilnya Dipasangi Bom, Blogger Anti-Korupsi Ternama di Eropa Tewas

BACA JUGA: Putra Wartawan Malta yang Tewas Dibom: Ibu Dibunuh karena Membela Supremasi Hukum

Unjuk rasa di Ibu Kota Valletta itu dipimpin oleh lembaga non-pemerintah (NGO) bernama Civil Society Network. Beberapa peserta membawa spanduk atau mengenakan kaus yang dibubuhi kata-kata terakhir Daphne sebelum tewas akibat bom mobil pada Senin 16 Oktober di dekat rumahnya.

“Ada penjahat di mana pun sejauh mata Anda memandang. Situasinya sangat gawat,” bunyi tulisan yang dibawa para demonstran, mengutip dari Reuters, Senin (23/10/2017).

(Demonstran memasang spanduk di depan Kantor Kepolisian Malta. Foto: Darrin Zammit Lupi/Reuters)

“Anda ingat, kami berkumpul, hampir tiga tahun lalu, di Paris, setelah peristiwa Charlie Hebdo. Kami berkumpul hari ini di Valletta untuk Daphne dan semua orang bisa bilang, ‘Saya Daphne,’” ujar Sekretaris Jenderal Reporter Tanpa Batas, Christophe Deloire.

Ketua Civil Society Network, Michael Briguglio mengatakan, komisioner Kepolisian Malta dan Jaksa Agung harus dicopot karena tidak bereaksi dengan baik setelah munculnya dokumen Panama Paper pada April 2016. Daphne dengan gagah berani menulis tentang dokumen tersebut.

Perempuan berusia 53 tahun itu melaporkan bahwa istri Perdana Menteri Malta Joseph Muscat, Michelle, menerima manfaat berupa uang dari perusahaan rahasia di Panama bernama Egrant. Uang senilai USD1 juta (setara Rp13,5 miliar) tersebut disetor dalam bentuk deposito dari Azerbaijan.

(Daphne Caruana Galizia. Foto: Darrin Zammit Lupi/Reuters)

Unjuk rasa turut dihadiri oleh Presiden Malta Marie-Louise Coleiro Preca bersama suaminya. Usai berunjuk rasa, sang presiden bertemu dengan perwakilan Civil Society Network. Sementara itu, Joseph Muscat tidak hadir dengan alasan tidak etis. Akan tetapi, perwakilan dari Partai Buruh yang dipimpinnya ambil bagian dalam aksi damai tersebut.

BACA JUGA: PM Malta Tawarkan Hadiah Besar untuk Ungkap Kasus Pembunuhan Jurnalis Anti-Korupsi

BACA JUGA: Malta Tawarkan Hadiah EUR1 Juta untuk Ungkap Kasus Pembunuhan Jurnalis Anti-Korupsi

Sebagaimana diberitakan, Daphne Caruana Galizia tewas seketika saat mobil yang ditumpanginya meledak tidak jauh dari rumah. Sebuah bom yang dipasang di mobilnya diduga menjadi penyebab ledakan tersebut.

Pemerintah Malta berkomitmen penuh untuk mengungkap pelaku pembunuhan tersebut. Mereka menawarkan hadiah senilai EUR1 juta (setara Rp15,9 miliar) dan perlindungan penuh bagi siapa saja yang memiliki informasi terkait pelaku pembunuhan tersebut.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini