VALLETTA – Pembunuhan terhadap wartawan investigasi terkemuka, Daphne Caruana Galizia, membuka mata dunia terhadap apa yang terjadi di Malta, sebuah negara kecil di Laut Tengah. Atensi dunia internasional dimanfaatkan ribuan orang untuk berunjuk rasa pada Minggu 22 Oktober.
BACA JUGA: Tragis! Mobilnya Dipasangi Bom, Blogger Anti-Korupsi Ternama di Eropa Tewas
BACA JUGA: Putra Wartawan Malta yang Tewas Dibom: Ibu Dibunuh karena Membela Supremasi Hukum
Unjuk rasa di Ibu Kota Valletta itu dipimpin oleh lembaga non-pemerintah (NGO) bernama Civil Society Network. Beberapa peserta membawa spanduk atau mengenakan kaus yang dibubuhi kata-kata terakhir Daphne sebelum tewas akibat bom mobil pada Senin 16 Oktober di dekat rumahnya.
“Ada penjahat di mana pun sejauh mata Anda memandang. Situasinya sangat gawat,” bunyi tulisan yang dibawa para demonstran, mengutip dari Reuters, Senin (23/10/2017).
(Demonstran memasang spanduk di depan Kantor Kepolisian Malta. Foto: Darrin Zammit Lupi/Reuters)
“Anda ingat, kami berkumpul, hampir tiga tahun lalu, di Paris, setelah peristiwa Charlie Hebdo. Kami berkumpul hari ini di Valletta untuk Daphne dan semua orang bisa bilang, ‘Saya Daphne,’” ujar Sekretaris Jenderal Reporter Tanpa Batas, Christophe Deloire.
Ketua Civil Society Network, Michael Briguglio mengatakan, komisioner Kepolisian Malta dan Jaksa Agung harus dicopot karena tidak bereaksi dengan baik setelah munculnya dokumen Panama Paper pada April 2016. Daphne dengan gagah berani menulis tentang dokumen tersebut.