Share

Puncak Peringatan Hari Santri Nasional, Purwakarta Raih Rekor MURI

Mulyana, Okezone · Selasa 24 Oktober 2017 13:34 WIB
https: img.okezone.com content 2017 10 24 525 1801328 puncak-peringatan-hari-santri-nasional-purwakarta-raih-rekor-muri-A7cNmL4b5A.jpg Bupati Purwakarta Dedi Mulyadi menghadri malam puncak peringatan Hari Santri Nasional tingkat kabupaten (Foto: Okezone/ Mulyana)

PURWAKARTA - Kabupaten Purwakarta, kembali menorehkan catatan di museum rekor indonesia (MURI) pada kategori pembacaan Nadzoman dengan peserta terbanyak, Senin, (23/10/2017) malam.

Rekor MURI ini terasa spesial karena diraih bertepatan dengan puncak peringatan Hari Santri Nasional tingkat kabupaten, yang digelar di Taman Pasanggrahan Padjajaran (alun-alun).

Menejer Operasional MURI, Triyono mengatakan selain jumlahnya, raihan rekor ini juga dinilai dari sisi kekompakan peโ€Žserta dalam membawakan Nadzoman tersebut, karena dikumandangkan dengan serempak dan menggunakan bahasa Sunda.

"Ini pertama kali di Jawa Barat, pertama kali di Indonesia. Jumlah pesertanya sebanyak 15 ribu orang membacakan Nadzoman secara serempak," ungkapnya.

Triyono juga menyebut bahwa ini merupakan pelafalan syair dalam bahasa daerah yang pertama kali diselenggarakan. Faktor ini menjadikan alasan tersendiri kenapa Nadzoman serempak masuk rekor MURI.

"Bukan hanya terbanyak, ini unik dan pertama kali menggunakan bahasa daerah dalam hal ini bahasa Sunda," jelasnya.

Sementara itu, Bupati Purwakarta Dedi Mulyadi memiliki tujuan tersendiri melalui langkah dirinya yang menghidupkan kembali Nadzoman di kalangan santri.

"Selain merupakan ciri khas santri, nadzom juga berisi tentang petuah akhlak mulia yang harus dijalankan dalam kehidupan sehari-hari," ujarnya.

Menurut Dedi, ini harus menjadi ciri khas santri zaman sekarang. Jadi sebelum waktu shalat tiba, mereka harus melafalkan Nadzoman.

"Jangan diganti dengan rekaman mp3 yang diputar berulang-ulang. Feel-nya gak masuk. Transformasi nilai akhlak yang ada dalam nadzom jadi tidak bisa dilakukan,"โ€Ž ujarnya.

Untuk diketahui, Nadzoman merupakan kosakata yang berasal dari bahasa Arab yang berarti syair yang memiliki keteraturan dalam rima yang sudah ditentukan oleh penyair. Dalam sastra Arab terdapat beberapa pengaturan rima dan irama yang disebut dengan bahar. Diantaranya, bahar rojaz, bahar basith dan bahar kamil.

Sementara dalam terminologi Sunda, Nadzoman dikenal sebagai syair yang berisi ajaran tentang falsafah yang mendorong pembacanya untuk berbuat baik dan tidak melanggar ajaran Agama Islam yang sudah digariskan. Iramanya ada yang ditentukan secara bebas, ada pula yang diselaraskan dengan seni Sunda atau Jawa seperti laras pelog dan salendro.

(fin)

(amr)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini