Share

Dua Noken Raksasa Siap Pecahkan Rekor MURI di Festival Lembah Baliem 2019

Jum'at 26 Juli 2019 14:32 WIB
https: img.okezone.com content 2019 07 26 1 2083891 dua-noken-raksasa-siap-pecahkan-rekor-muri-di-festival-lembah-baliem-2019-3lsIwCU5N1.jpg Foto: dok.Humas Kemenpar

JAKARTA – Pelaksanaan Festival Lembah Baliem (FLB) 2019 akan terasa istimewa karena berbagai kekayaan budaya Papua bakal mewarnai even yang akan digelar pada 7-10 Agustus tersebut. Selain itu akan disuguhkan juga pertunjukan tas tradisional papua berupa noken raksasa setinggi 30 meter. Noken tersebut bakal memecahkan rekor Museum Republik Indonesia (MURI)

"Noken bukanlah tas biasa. Bagi masyarakat Suku Hubula dan masyarakat di wilayah Pegunungan Tengah pada umumnya (Suku Lanny, Suku Yali dan suku Ngalik), noken memiliki nilai adat yang sangat tinggi. Maka sangat wajar jika noken dijadikan sebagai ikon pada pelaksanaan Festival Lembah Baliem ke-30 ini," ujar Staf Khusus Kementerian Pariwisata (Kemenpar) Bidang Media dan Komunikasi Don Kardono, Rabu (24/7/2019).

Sementara Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Kadisbudpar) Kabupaten Jayawijaya, Alpius Wetipo mengatakan ada dua jenis noken raksasa yang akan ditampilkan. Pertama adalah Noken Lakulik, yakni berupa tas yang berfungsi sebagai pembayaran adat seperti bayar denda, bayar kepala, bayar mas kawin, bayar duka, atau pun persembahan pada upacara adat bagi yang maha kuasa (Ap tugure).

Kedua ada Noken Apugut, yaitu tas yang berfungsi sebagai pelengkap bagi kaum wanita. Digunakan di kepala kaum wanita saat menghadiri acara pesta adat, tari-tarian, saat melakukan perjalanan atau menggendong anak.

"Hari ini saya sendiri telah meninjau kesiapan pembuatan kedua noken tersebut. Untuk Noken Lakulik telah mencapai panjang 22 meter yang dibuat oleh ibu-ibu dari Asitipo. Sedangkan untuk Noken Apugut pengerjaannya telah mencapai 98% yang dikerjakan oleh ibu-ibu pengrajin di Waga-Waga Distrik Kurulu," terang Alpius.

Noken dalam bahasa Suku Hubula di sebut Su atau sebuah harta yang digunakan sebagai nilai kehidupan sosial. Di dalamnya terkandung nilai penghormatan dan juga nilai kekuatan.

Noken atau Su juga dijadikan sebagai dasar alat pembayaran, alat pernyataan kehormatan, dan alat persembahan bagi para arwah leluhur atau yang maha kuasa. Noken pun berfungsi sebagai alat kehormatan bagi seorang wanita, harta benda adat yang harus dijaga. Selain juga sebagai tempat penyimpanan benda berharga, benda sakral, benda sumber kekuatan dan juga benda kehormatan.

"Noken bukanlah tas biasa. Banyak falsafah yang terkandung di dalamnya. Selain itu noken pun bisa menjadi sebuah kerajinan yang menarik untuk dijadikan oleh-oleh wisatawan. Dengan diangkatnya kerajinan ini, akan semakin menambah nilai jual noken ke wisatawan. Imbasnya tentu peningkatan perekonomian masyarakat terutama para pengrajin noken," papar Deputi Bidang Pengembangan Pemasaran I Kementerian Pariwisata (Kemenpar) Rizki Handayani yang diamini oleh Asisten Deputi Bidang Pengembangan Pemasaran I Regional III Kemenpar Ricky Fauziyani.

Lalu Tenaga Ahli Menteri Pariwisata Bidang Management CoE Esthy Reko Astuti ikut angkat suara. Menurutnya Festival Lembah Baliem menjadi merupakan even yang wajib dikunjungi. Eksistensinya sudah tidak diragukan dan telah dilaksanakan selama 30 tahun lamanya. Bahkan merupakan festival tertua di Papua. Dengan begitu dapat dipastikan jika festival ini akan sensasional.

"Tahun lalu FLB mampu menyedot 3.000 wisatawan, 1.000 di antaranya merupakan turis mancanegara. Ini merupakan bukti betapa bakal menariknya FLB nantinya. Makanya banyak yang beranggapan jika belum ke Baliem berarti belum sah menginjakkan kaki di Papua," katanya.

Menteri Pariwisata Arief Yahya pun seirama. Menurutnya selama 30 tahun perjalanan pagelaran budaya ini terus berkembang menjadi ikon pariwisata Papua. Perhelatannya selalu kolosal dan megah, dan menjadi buruan wajib traveler dunia. Kehadirannya mampu memberikan gambaran eksotisnya alam serta kebesaran budaya Papua.

"Bayangkan atmosfer yang tercipta pada pagelaran Festival Lembah Baliem. Ratusan orang dari berbagai suku di Papua berbondong-bondong datang dengan segala perlengkapan adat yang mereka punya. Dan ini menjadi sebuah tampilan menarik yang selalu menjadi buruan wisatawan. Belum lagi keindahan alamnya yang jelas tak terbantahkan. Silakan datang dan nikmati eksotisme Papua," kata menteri asal Banyuwangi itu.

(abp)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini