"Noken bukanlah tas biasa. Banyak falsafah yang terkandung di dalamnya. Selain itu noken pun bisa menjadi sebuah kerajinan yang menarik untuk dijadikan oleh-oleh wisatawan. Dengan diangkatnya kerajinan ini, akan semakin menambah nilai jual noken ke wisatawan. Imbasnya tentu peningkatan perekonomian masyarakat terutama para pengrajin noken," papar Deputi Bidang Pengembangan Pemasaran I Kementerian Pariwisata (Kemenpar) Rizki Handayani yang diamini oleh Asisten Deputi Bidang Pengembangan Pemasaran I Regional III Kemenpar Ricky Fauziyani.
Lalu Tenaga Ahli Menteri Pariwisata Bidang Management CoE Esthy Reko Astuti ikut angkat suara. Menurutnya Festival Lembah Baliem menjadi merupakan even yang wajib dikunjungi. Eksistensinya sudah tidak diragukan dan telah dilaksanakan selama 30 tahun lamanya. Bahkan merupakan festival tertua di Papua. Dengan begitu dapat dipastikan jika festival ini akan sensasional.
"Tahun lalu FLB mampu menyedot 3.000 wisatawan, 1.000 di antaranya merupakan turis mancanegara. Ini merupakan bukti betapa bakal menariknya FLB nantinya. Makanya banyak yang beranggapan jika belum ke Baliem berarti belum sah menginjakkan kaki di Papua," katanya.
Menteri Pariwisata Arief Yahya pun seirama. Menurutnya selama 30 tahun perjalanan pagelaran budaya ini terus berkembang menjadi ikon pariwisata Papua. Perhelatannya selalu kolosal dan megah, dan menjadi buruan wajib traveler dunia. Kehadirannya mampu memberikan gambaran eksotisnya alam serta kebesaran budaya Papua.
"Bayangkan atmosfer yang tercipta pada pagelaran Festival Lembah Baliem. Ratusan orang dari berbagai suku di Papua berbondong-bondong datang dengan segala perlengkapan adat yang mereka punya. Dan ini menjadi sebuah tampilan menarik yang selalu menjadi buruan wisatawan. Belum lagi keindahan alamnya yang jelas tak terbantahkan. Silakan datang dan nikmati eksotisme Papua," kata menteri asal Banyuwangi itu.
(Abu Sahma Pane)