JUBA - Musim panen membawa sedikit kelegaan bagi jutaan orang yang kelaparan di Sudan Selatan karena konflik dan hiperinflasi yang mengakibatkan malnutrisi. Hal tersebut disampaikan oleh pakar keamanan pangan.
Lebih dari 1,1 juta anak balita diperkirakan akan kekurangan gizi pada 2018 termasuk hampir 300 ribu anak yang berisiko meninggal akibat malnutrisi.
Angka gizi buruk akut di hampir satu dari lima kabupaten di Sudan Selatan jauh di atas ambang batas darurat Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) yaitu sebesar 15%, kata IPC, yang anggotanya termasuk lembaga bantuan dan Organisasi Pangan dan Pertanian PBB (FAO) dan Program Pangan Dunia (WFP).
"Negara itu telah dilanda pertempuran dan menemukan solusi damai untuk tragedi buatan manusia ini harus menjadi prioritas utama atau situasinya akan semakin buruk tahun depan," ungkap Serge Tissot, perwakilan FAO di Sudan Selatan, mengatakan dalam sebuah pernyataan, dilansir Reuters, Senin (6/11/2017).
BACA JUGA: Selamat! Sudan dan Sudan Selatan Sepakat untuk Akhiri Ketegangan
Sudan Selatan terlibat dalam perang saudara pada 2013 setelah Presiden Salva Kiir memecat wakilnya, melepaskan konflik yang telah melahirkan faksi-faksi bersenjata yang sering mengikuti garis etnis.
"Musim ramping" adalah sebutan ketika orang-orang mulai kekurangan makanan sebelum panen berikutnya. Diperkirakan akan dimulai tiga bulan lebih awal dari biasanya, menurut lembaga bantuan.