MOJOKERTO - Peran ulama dan kiai di Mojokerto, Jawa Timur, dalam perang kemerdekaan tidak bisa diragukan. Hampir mayoritas kiai di Bumi Majapahit turun ke palagan guna mengusir penjajah. Tak heran jika, ratusan santri dan pemuda kala itu terlecut untuk mempertahankan NKRI.
Ada banyak kiai di Mojokerto yang turun ke medan pertempuran. Sebut saja, KH Nawawi yang bergelar Syuhada Kemerdekaan. Pasca keluarnya Resolusi Jihad, gelombang pengiriman pemuda pejuang ke Surabaya dari Mojokerto pada tahun 1945 seperti tak pernah putus. Para pemuda Mojokerto ini bahkan harus antre menanti giliran berperang di medan pertempuran.
Kendati hanya bermodal bambu runcing, keris, tombak dan parang, tak sedikitpun menciutkan nyali mereka menghadapi moncong senapan tentara NICA. Baiat yang disampaikan para kiai yakni gugur sebagai syuhada, menjadi pelecut para pemuda Mojokerto ini.
Namun, tak hanya itu, ada faktor lain yang membuat para pemuda ini tak gentar di medan perang. Sebelum menuju medan laga, ternyata para pemuda yang dikoordinir oleh KH Moenasir pimpinan Laskar Hisbullah ini terlebih dahulu menghadap kepada para kiai.
"Ketika sowan ke kiai itulah, para pemuda ini disuwuk (dibekali) ilmu kebal peluru. Sehingga tak heran jika waktu perang 10 November 1945, pasukan NICA kewalahan menghadapi serangan para pejuang. Selain banyaknya jumlah pemuda yang ketika itu ikut berjuang," kata Sejarahwan Muda Mojokerto, Ayuhannafik, Jumat (10/11/2017).
Pria yang akrab disapa Yuhan ini menuturkan, cerita suwuk kebal peluru yang diberikan para kiai saat hendak berjuang ini bukan hanya bualan belaka. Banyak pemuda yang sudah membuktikan diri lolos dari kematian kendati terkena pelor senjata tentara NICA.