"Ada yang sampai saat ini masih hidup. Beliau bernama Abah Sueb. Beliau itu, salah satu pengawalnya Kiai Nawawi. Ketika hendak berperang, Abah Sueb ini diberi kain udeng yang sebelumnya sudah dirajah oleh Kiai Nawawi," tutur pria yang juga Ketua KPUD Kabupaten Mojokerto ini.
Memang, Kiai Nawawi terkenal sebagai sosok linuwih. Dari cerita-cerita para ulama, Kiai Nawawi juga kebal peluru. Tidak ada satupun pelor yang berhasil menembus tubuh kiai yang beperawakan kecil itu. Kendati ia selalu berada di garis depan medan pertempuran.
"Kiai Nawawi meninggal bukan dengan ditembak, melainkan dengan cara ditusuk bayonet. Kabarnya, ada penghianat yang membocorkan pengapesan Kiai Nawawi pada NICA. Semasa hidupnya, beliau banyak membekali pejuang dengan berbagai macam piandel yang membangkitkan keberanian," papar Yuhan.
Ada beberapa kiai yang menjadi jujukan para pemuda di Mojokerto sebelum berangkat berperang. Selain Kiai Nawawi ada juga Kiai Zahid Sinoman dan Mbah Ilyas. Ketiga kiai sakti ini yang banyak dimintai suwuk selain beberapa kiai lainnya.
"Kiai Zahid dan Mbah Ilyas adalah sosok yang unik dan nyeleneh. Mereka berdua sering meminta sumbangan dan memberikan hasil sumbangan itu pada orang lain. Orang yang dimintai uang atau barang dengan senang hati memberi karena setelah memberi mereka mendapat rejeki yang lebih pada hari itu," jelas mantan aktivis PMII Mojokerto ini.