Ali Abdullah Saleh, Presiden Pemersatu Yaman yang Berakhir Tragis

Rahman Asmardika, Okezone · Selasa 05 Desember 2017 14:15 WIB
https: img.okezone.com content 2017 12 05 18 1825416 ali-abdullah-saleh-presiden-pemersatu-yaman-yang-berakhir-tragis-x38dORenM7.jpg Mantan Presiden Yaman, Ali Abdullah Saleh. (Foto: Reuters)

MANTAN Presiden Yaman Ali Abdullah Saleh mengambil alih Yaman Utara pada 1978 dan menjadi presiden Republik Yaman setelah unifikasi dua bagian negara pada 1990. Saleh adalah satu-satunya orang yang menjabat sebagai presiden Yaman bersatu dan terbukti merupakan seorang politikus ulung yang mampu memanipulasi sistem kesukuan di Yaman dan menangkal pemberontakan baik dari wilayah utara maupun selatan.

BACA JUGA: Mantan Presiden Yaman Dibunuh Karena Berkhianat

Al Jazeera melansir, Saleh sering memperlihatkan dirinya sebagai satu-satunya sosok yang dapat menyatukan Yaman. Selama lebih dari 33 tahun berkuasa, Saleh seringkali menuding lawan politiknya sebagai bagian dari konspirasi untuk menghancurkan negara.

Namun, kekuasaannya harus berakhir menyusul pemberontakan yang dipicu oleh Arab Spring pada 2011. Di tahun berikutnya, Saleh terpaksa mundur dan menandatangani kesepakatan yang ditengahi oleh Dewan Kerjasama Teluk (GCC) pimpinan Arab Saudi.

Mundurnya Saleh dari perpolitikan Yaman tidak berlangsung lama karena pada 2015 dia kembali muncul dan membangun persekutuan dengan kelompok Houthi di tengah kancah perang sipil yang berkobar.

Persekutuan Saleh dengan Houthi berakhir pada Desember 2017 setelah pria berusia 75 tahun itu secara resmi memutuskan hubungan dan menyampaikan keterbukaannya untuk melakukan pembicaraan dengan Arab Saudi yang tengah berperang dengan Houthi. Langkah itu terbukti fatal bagi Saleh karena beberapa hari kemudian dia tewas dibunuh dalam sebuah serangan di pinggiran Kota Sanaa.

Ali Abdullah Saleh lahir pada Maret 1942 di Kota Bayt al Ahmar, di Distrik Sanhan, Kerajaan Yaman. Tanpa memiliki pendidikan yang tinggi, Saleh bergabung dengan militer dan menghabiskan awal kariernya di sana. Dia turut bertempur di pihak pemerintah republik menghadapi sisa-sisa kerajaan yang didukung Arab Saudi pada Perang Sipil Yaman Utara dari 1962 sampai 1970.

Setelah kemenangan pihak republik, Saleh tetap berada di dalam ketentaraan sampai 1978. Di masa itu, Yaman Utara memiliki  tiga presiden yang berganti dalam waktu yang sangat singkat dari 1974 sampai 1978. Dua presiden tewas dibunuh sementara yang ketiga melarikan diri setelah kurang dari sebulan menjabat.

Setelah terbunuhnya Presiden Al Ghasmi, Saleh ditunjuk sebagai anggota dewan kepresidenan sementara sebelum ditunjuk oleh parlemen untuk menjadi Presiden Yaman dan komandan angkatan bersenjata pada Juli 1978.

Meski diprediksi tidak akan lama memerintah, Saleh ternyata dapat bertahan dan mengonsolidasi kekuatannya di dalam partai berkuasa Kongres Rakyat Umum (GPC) dan membeli dukungan dari suku-suku yang terpecah di Yaman. Dengan dukungan tersebut, Saleh kembali terpilih pada 1982 dan 1988.

Screengrab video yang memperlihatkan jasad Ali Abdullah Saleh. (Foto: Middleeasteye)

Pada 1990 Saleh meraih pencapaian terbesar dalam kepresidenannya saat kesepakatan penyatuan dengan Republik Demokratik Rakyat Yaman atau yang dikenal dengan nama Yaman Selatan. Bagian selatan Yaman yang berhaluan komunis itu memilih untuk bersatu setelah runtuhnya Uni Soviet dan berakhirnya Perang Dingin.

Penyatuan itu tidak bertahan terlalu lama, terutama dikarenakan ketimpangan ekonomi yang dijalankan oleh pemerintahan yang didominasi pejabat Yaman Utara. Sekira empat tahun setelah unifikasi, pada 1994, perang sipil kembali pecah di Yaman dan Yaman Selatan kembali memisahkan diri.

Tetapi, Saleh tidak membuang waktu dan segera mengerahkan tentaranya untuk menghancurkan  militer Yaman selatan dan mengembalikannya ke dalam Yaman yang bersatu.    

Pemerintahan Saleh yang dipenuhi korupsi berakhir pada 2012 menyusul Arab Spring yang melanda wilayah Timur Tengah dan Afrika utara setahun sebelumnya.

Kegagalan Saleh sebagai presiden memicu protes selama berbulan-bulan sejak Januari 2011 di Ibu Kota Sanaa. Tindakan brutal yang diambil Saleh untuk menghentikan protes justru membuat para jenderalnya membelot dan berbalik melindungi para demonstran.

Setelah berbagai upaya dilakukan Saleh untuk mempertahankan kekuasaannya gagal, dia memutuskan untuk mengundurkan diri melalui kesepakatan yang diperantarai Arab Saudi. Dia menyerahkan kekuasaan pada wakilnya Abd Raboo Mansour Hadi sebagai ganti kekebalan atas tuntutan.

Dia meninggalkan pemerintahan yang serba kekurangan tanpa kemampuan menghadapi sejumlah tantangan termasuk persediaan air dan minyak yang menipis serta populasi pemuda tanpa pekerjaan yang semakin meningkat.

Di akhir pemerintahannya, Dewan Keamanan PBB menemukan Saleh telah mengumpulkan kekayaan antara USD32 miliar sampai USD60 miliar yang disimpan di sedikitnya 20 negara selama lebih dari 3 dekade dia berkuasa. Pemerintahannya bahkan dinilai sebagai salah satu rezim terkorup di dunia.  

Pada 2015 setelah kelompok Houthi berhasil menyingkirkan Pemerintah Yaman dari Ibu Kota Sanaa, Saleh kembali muncul dan menjalin persekutuan dengan kelompok Syiah yang didukung Iran tersebut. Saleh bergabung dengan Houthi setelah rumahnya di Sanaa menjadi sasaran serangan udara koalisi pimpinan Arab Saudi yang turut terjun membantu pasukan Pemerintah Yaman menghadapi Houthi.

Tetapi pada Desember 2017, Saleh muncul dan berbicara dalam pidato yang disiarkan di televisi mengumumkan bahwa dirinya secara resmi memutuskan hubungan dengan Houthi dan membuka peluang perundingan dengan koalisi pimpinan Arab Saudi. Langkah ini tampaknya telah direncanakan Saleh setelah dia dan pasukannya berusaha mengambil alih kendali Sanaa dari sekutu Houthinya.

BACA JUGA: Mantan Presiden Yaman Tewas Diberondong 35 Peluru

Sayangnya, kali ini rencana Saleh justru membawanya kepada akhir yang brutal di tangan militan Houthi. Keterangan dari beberapa sumber menyebutkan, tidak kurang dari 35 peluru bersarang di tubuh dan kepalanya setelah rombongannya dicegat dan diserang di pinggiran Kota Sanaa.

Ali Abdullah Saleh tewas pada 4 Desember 2017 di usia 75 tahun.

1
3

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini