Advertisement
Advertisement
Advertisement
INFOGRAFIS INDEKS
Advertisement

Revolusi Antikorupsi Arab Saudi Jerat Nama-Nama Besar

Wikanto Arungbudoyo , Jurnalis-Sabtu, 16 Desember 2017 |06:42 WIB
Revolusi Antikorupsi Arab Saudi Jerat Nama-Nama Besar
Putra Mahkota Kerajaan Arab Saudi Pangeran Mohammed bin Salman (Foto: Hamad I Mohammed/Reuters)
A
A
A

POLITIK dalam negeri Arab Saudi sempat mencuri perhatian pada pertengahan 2017 ketika Raja Salman bin Abdulaziz al Saud secara tiba-tiba mengangkat Pangeran Mohammed bin Salman sebagai Putra Mahkota. Pengangkatan tersebut ‘melanggar’ tradisi yang selama ini berlaku di Kerajaan Arab Saudi.

Biasanya, Putra Mahkota Arab Saudi ditetapkan sebagai sepupu atau saudara laki-laki sang raja. Hal tersebut dimaksudkan agar tidak menyebabkan guncangan terhadap stabilitas Kerajaan Arab Saudi. Ambil contoh Raja Salman yang menggantikan Raja Abdullah, saudara tirinya, pada 2015.

BACA JUGA: Raja Salman Kukuhkan Anaknya Jadi Putra Mahkota Arab Saudi

Pangeran Mohammed sendiri beberapa kali dianggap sebagai Raja de facto Arab Saudi. Sebab, Raja Salman dikabarkan menyerahkan segala keputusan serta kebijakan strategis negara kepada pangeran berusia 32 tahun itu. Apalagi, sang pangeran memangku sejumlah jabatan penting di pemerintahan.

Putra sulung Raja Salman itu menjabat sebagai Menteri Pertahanan sekaligus Wakil Perdana Menteri Arab Saudi. Nama Pangeran Mohammed sempat booming ketika pria kelahiran 31 Agustus 1985 itu mencanangkan reformasi ekonomi bertajuk ‘Vision 2030’ untuk mengubah negaranya menjadi lebih moderat dan ramah pada investasi asing.

Pria berinisial MBS itu juga beberapa kali menggantikan ayahnya dalam kunjungan kenegaraan ke luar negeri atau menerima tamu negara di Istana Kerajaan. Perannya yang semakin besar itu memberi jalan bagi sebuah perubahan lain yang menyeret anggota Kerajaan Arab Saudi lain. 

Revolusi Antikorupsi

Pangeran Mohammed membentuk Badan Antikorupsi Arab Saudi pada 4 November 2017. Hanya dalam hitungan jam, puluhan orang penting di Arab Saudi ditangkap oleh badan tersebut. Di antara mereka yang ditangkap, terdapat 11 pangeran kerajaan; empat orang di antaranya saat ini menduduki jabatan sebagai menteri di kabinet.

BACA JUGA: Aduh! 11 Pangeran Arab Saudi Ditangkap Badan Antikorupsi

Penangkapan dilakukan lewat Dekrit Kerajaan Raja Salman bin Abdulaziz al Saud. Jaksa Agung Arab Saudi, Syeikh Saud al Mojeb mengatakan, operasi penangkapan tersebut baru awal dari sebuah operasi besar antikorupsi.

“Banyak bukti telah dikumpulkan dan interogasi mendalam sudah dilakukan. Semua tersangka hingga hari ini, akan diberi akses penuh terhadap sumber daya hukum, dan persidangan akan dilaksanakan secara tepat waktu dan terbuka untuk semua pihak berkepentingan,” ujar Syeikh Saud al Mojeb.

Di antara 11 pangeran dan puluhan orang lainnya yang ditangkap dan ditahan, ada setidaknya enam tokoh yang tidak hanya terkenal di dalam negeri, tetapi juga di komunitas internasional. Salah satunya adalah Pangeran Alwaleed bin Talal, pria berusia 62 tahun yang masuk dalam daftar orang paling kaya di dunia.

Tokoh lainnya adalah Pangeran Miteb bin Abdullah. Kepala Garda Nasional itu pernah digadang-gadang sebagai calon Putra Mahkota Arab Saudi menggantikan ayahnya, Raja Abdullah bin Abdulaziz al Saud. Namun, posisi itu diberikan kepada (saat itu) Pangeran Salman bin Abdulaziz al Saud. Saudaranya, Pangeran Turki bin Abdullah, juga harus merasakan dinginnya jeruji besi.

Nama lain yang ditangkap adalah Waleed Ibrahim al Ibrahim. Adik ipar mendiang Raja Fahd ini adalah pemilik Middle East Broadcasting Company (MBC), yang dikenal sebagai salah satu jejaring satelit paling berpengaruh di dunia Arab.

Halaman:
      
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita news lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement