nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Guru Agama SD di Tenggarong Cabuli 7 Siswanya di Musala

Bambang Ir, Jurnalis · Sabtu 23 Desember 2017 02:00 WIB
https: img-z.okeinfo.net content 2017 12 23 340 1834896 guru-agama-sd-di-tenggarong-cabuli-7-siswanya-di-musala-lse1m8uXoi.jpg Ilustrasi. Foto Okezone

KUTAI KARTANEGARA – Seorang guru agama di salah satu Sekolah Dasar (SD) di Kecamatan Tenggarong Seberang, Kabupaten Kutai Kartanegara ini, mencabuli siswanya di musala

Pelaku melakukan tinda asusila kepada tujuh siswinya yang berusia 8-10 tahun. Jumlah korban bisa saja bertambah karena polisi masih terus melakukan penyelidikan.

ER (49) warga Kelurahan Teluk Lerong, Kecamatan Samarinda Ilir, Kota Samarinda ini, diduga telah menjalankan aksi bejatnya sejak enam bulan lalu. Dalam aksinya, tersangka mengaku tidak sampai menyetubuhi korban namun hanya menggunakan jari, lantaran impoten.

Awalnya, SP orangtua korban, KA (9) melaporkan perbuatan pelaku kepada pihak sekolah. Mereka meminta agar ER dipindahkan dari sekolah dan menuntaskan kasus ini lewat jalur hukum.

Kasus ini, kemudian ditindak lanjuti pihak sekolah dan ER dimutasi ke UPT Disdik. Hanya saja, orangtua korban tidak merasa puas karena tidak ada hukuman setimpal kepada pelaku, sehingga berlanjut pada laporan ke Mapolsek Tenggarong Seberang pada 15 Desember 2017. “Usai menerima laporan, kita melakukan penyidikan dan mengamankan tersangka,” kata Kapolsek Tenggarong Seberang, AKP Supriyadi didampingi Kanit Reskrim, IPDA Hadi Winarno.

Tersangka diamankan saat berada di kantor UPTD Dinas Pendidikan Tenggarong Seberang pada 20 Desember 2017 sekitar pukul 10.00 Wita.

Adapun modus yang dilakukan pelaku dalam memuluskan aksinya yakni menyuruh beberapa orang muridnya untuk membersihkan musala, termasuk korban KA. Pelaku mengajak korban untuk masuk ke dalam musala, sedangkan teman lainnya diperintahkan untuk membersihkan bagian luar musala.

Kemudian mengajak korban ke pojok musala dan langsung memegang kedua tangan korban dan menciumi bagian bibir korban. Pelaku juga meremas payudara korban serta meraba dan memasukkan jari pelaku ke kemaluan korban.

Namun, pelaku hanya bisa melakukan aksi cabul saja karena tidak bisa eraksi secara sempurna karena diduga impoten. Pelaku mengancam korban untuk tidak mengatakan kepada siapapun termasuk kepada orang tuanya. Jika korban melapor maka nilai di raport akan diberi rendah, korban juga diberi uang oleh pelaku dengan alasan untuk membeli minuman setelah selesai membersihkan musala.

Sesampainya di rumah setelah pulang sekolah, korban menceritakan kejadian yang dialaminya kepada orang tuanya, sehingga membuat orang tua korban keberatan kemudian melaporkannya kepada pihak sekolah.

Pelaku dijerat dengan Pasal 76-e Jo Pasal 82 ayat (1), ayat (2) UURI No 35 tahun 2014 tentang perubahan atas UURI No 23 tahun 2002 tentang Perlindungan anak Jo Pasal 63 KUHP.

Kepada polisi, ER mengaku melakukan pencabulan karena hasrat seksualnya tidak terpenuhi kendati sudah memiliki istri dan empat anak. “Ketika mau bersetubuh, selalu loyo. Makanya coba-coba di sekolah pada anak didiknya,” ungkap Hadi.

(fzy)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini