ACEH - Terletak di ujung Sumatera Indonesia, Provinsi Aceh dikenal sebagai bumi serambi Mekkah. Selain sebagai daerah pertama datangnya Islam di Indonesia, daerah ini juga merupakan pusat perkembangan peradaban Islam di Asia Tenggara dengan penduduk mayoritas Islam, Aceh memiliki keistimewaan dalam hal bidang agama.
Pelaksanaan syariat Islam memperoleh dasar hukum pasca reformasi tahun 1998, tepatnya tahun 2001 melalui UU Nomor 4 tahun 1999 tentang penyelanggaraan Keistimewaan Provinsi Daerah Istimewa Aceh.
Gereja Katolik Hati Kudus, di kawasan Simpang Lima, Banda Aceh (foto: Zuhri Noviandi/Okezone)
Meski saat ini Aceh telah diberlakukannya Syariat Islam secara kaffah, bukan berarti umat non muslim tidak boleh menetap dan menjalankan ibadah sesuai dengan agamanya masing-masing. Hanya saja diminta untuk menghormati pelaksanaan dan penerapan syariat islam yang berlaku.
Berlakunya syariat Islam di Aceh selama ini tidak membawa persamasalahan di tengah masyarakat non muslim. Seperti hal nya pemeluk agama Kristen yang melaksanakan hari perayaan Natal pada 25 Desember 2017. Mereka dipersilahkan untuk melaksanakan ibadahnya sesuai ajaran agama mereka.
Potret Perayaan Natal di Aceh
Hotli Simanjuntak, merupakan seorang warga perantaun asal Sumatera Utara, pemeluk agama Kristen yang telah lama tinggal di kota Banda Aceh. Mengenakan baju kaos dan syal merah di lehernya sambil menenteng kamera, Hotli bersama dengan 2 buah hatinya tampak sedang menyaksikan pameran foto di kawasan Museum Tsunami Aceh. Ia juga tak luput membidik setiap aktifitas warga berada di sana.
Hotli merupakan seorang jurnalis foto untuk European Pressphoto Agency (EPA) merupakan sebuah kantor berita foto Internasional. Bekerja sebagai seorang jurnalis, saban hari Hotli melakukan aktifitas liputan bersama teman-teman seprofesi dengannya yang beragama muslim, bahkan masyarakat umum.
(Baca Juga: Nuansa Jepang Warnai Perayaan Natal di Gereja Katedral Purwokerto)
Hotli sudah tinggal di Aceh sejak masa konflik. Dia pun telah merekam beragama kejadian hingga sosial masyarakat ketika peristiwa itu terjadi. Selama hampir 20 tahun berada di Aceh, Hotli bersama keluarga selalu merayakan perayaan Natal setiap tahunnya di tanah rencong.
Melaksanakan ibadah seseuai agamanya di Gereja yang ada di kota Banda Aceh. Bagi Hotli bersama keluarga merayakan Natal di Aceh lebih aman ketimbang daerah lainnya.
“Aku selalu merayakan Natal di sini. Karena rasanya lebih bermakna doaku lebih dalam,” kata Hotli saat berdiskusi dengan Okezone.
Gereja Katolik Hati Kudus, di kawasan Simpang Lima, Banda Aceh (foto: Zuhri Noviandi/Okezone)
Hotli melihat perayaan Natal di Aceh setiap tahunnya berjalan dengan baik dan aman. Tidak ada tekanan yang dirasakan oleh umat kristiani yang ada di Aceh. Perayaan Natal di Aceh sama seperti daerah lain. Hanya saja bagi Hotli tidak sesemarak dengan daerah lain, umat Kristiani di sini tetap merayakan natal tapi bersifat interen.
“Perayaan Natal di sini cenderung aman artinya mungkin tidak seheboh daerah lain. Kalau di wilayah-wilayah lain sudah ada ornament-ornamen natal seperti di Mall atau tempat lainnya kalau kita disini tidak ada. Justru saya pribadi merayakan natal di tempat seperti ini lebih dalam maknanya,” ungkap Hotli.
Bicara soal kerukunan antar-umat bergama, menurutnya umat Muslim di Aceh tidak terlalu mengurus dan mengganggu aktifitas mereka. Walaupun mereka sebagai minoritas dikelilingi oleh mayoritas muslim, umat kristiani tidak pernah merasakan adanya konflik yang terjadi.
“Dilingkungan gerja banyak rata-rata muslim. namun tidak ada gesekan mereka menerima dengan baik,” kata Hotli.