Advertisement
Advertisement
Advertisement
INFOGRAFIS INDEKS
Advertisement

Potret Perayaan Natal di Bumi Serambi Mekkah

Zuhri Noviandi , Jurnalis-Senin, 25 Desember 2017 |13:31 WIB
Potret Perayaan Natal di Bumi Serambi Mekkah
Gereja Hati Kudus di Simpang Lima Banda Aceh (foto: Ampelsa/Antara)
A
A
A

Perayaan Natal di Aceh Aman dan Damai

Di Banda Aceh kebergaman dapat dirasakan ketika berada di kawasan Peunayong, Kampung Mulia dan Kampung Laksana. Masyrakat yang tinggal di sana ragam agama mulai dari pemeluk Islam, Nasrani, Budha, dan Etis Tinghoa. Bahkan di Kampung Mulia jarak rumah ibadah antar agama saling berdekatan.

Selain Masjid sebagai rumah ibadah warga mayoritas Muslim, juga terdapat tiga gereja yaitu Gereja Protestan Indonesia Barat (GPIB)bersebelahan dengan Gereja Methodis Indonesia (GMI) di jalan Pocut Baren, dan Gereja adat Huria Kristen Batak Prostestan (HKBP).

Pendudukan umat Kristiani di Banda Aceh berjumlah sebanyak 1500, sementara untuk seluruh Aceh berjumlah 48.500 ditambah dengan dua kabupaten Aceh Tenggara dan Singkil. Di dua kabupaten ini pemeluk agama Kristen lebih banyak dari pada Banda Aceh.

Pembimbing Masyarakat Kristen Kanwil Kemenag Aceh, Samarel Telaumbanu menceritakan, keberedaan mereka sebagai kaum minoritas di Aceh berjalan dengan baik dan aman. Umat Kristiani merasakan kenyamanan bahkan tidak ada ketakutan. Mereka saling berintreaksi dengan masyrakat muslim Aceh lainnya.

(Baca Juga: Geliat Kemeriahan Menyambut Natal di Bangka Belitung)

Gereja Katolik Hati Kudus, di kawasan Simpang Lima, Banda Aceh (foto: Zuhri Noviandi/Okezone)

Sejak diberlakukannya penarapan syariat Islam di Aceh, menurut Samarel tidak sisi aturan di dalamnya bersifat menganggu agama lain. Hanya saja saling menghormati aturan yang telah berlaku di Aceh. Bahkan sebagai non muslim pemuka agama Kristen di Aceh juga ikut trlibat saat penyusuan qanun (aturan) di dalam pemerintahan.

Samarel telah berada di Aceh sejak tahun 1998, lika-liku dinamika konflik Aceh hingga bencana alam telah ia rasakan di tanah Sultan Iskandar Muda itu. Samarel mengaku kehidupan di Aceh jauh lebih nyaman ketimbang daerah lainnya.

“Kalau ditanya saya apakah lebih enak hidup di Aceh atau di luar. maka saya akan menyebutkan lebih enak tinggal di sini. Alasannya karena nyaman tidak ada rasa ketakutan,” kata Samarel.

Hubungan tolerasi antar umat beraga yang berlangsung di Banda Aceh, Samarel melihat dari tahun ke tahun berlangsung dengan harmonis tidak saling mengganggu, menyinggung perasaan orang lain dan tetap meyakini sesuai ajaran agama masing-masing.

Untuk perayaan Natal sendiri, sebutnya di Aceh kondusif aman dan nyaman, umat kristiani melakukan aktifitas ibadah dengan baik. Seperti hal masyarakat lainnya di Aceh tidak ada yang menganggu dan merasa tertekan.

“Teman-teman yang mayoritas muslim mereka menerima kami dengan baik. Saya melihat tidak gesekan ditengah masyrakat. Selama perayaan Natal di sini tidak ada masalah. Tidak ada orang yang membenci kita di Aceh. Masyarakatnya menerima kami dengan baik,” ujar Samarel.

Samarel berpesan terpenting sesama umat bergama di Aceh khususnya saling jaga diri dan waspada terhadap pihak yang mencoba merusak situasi. “Kitakan sudah dewasa, terkadang kedamaian ada orang-orang pihak tertentu yang tidak menyenangi ada kerhamonisan. Jadi itu yang perlu kita jadikan musuh besar,” tuturnya.

Halaman:
      
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita news lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement