Advertisement
Advertisement
Advertisement
INFOGRAFIS INDEKS
Advertisement

Potret Perayaan Natal di Bumi Serambi Mekkah

Zuhri Noviandi , Jurnalis-Senin, 25 Desember 2017 |13:31 WIB
Potret Perayaan Natal di Bumi Serambi Mekkah
Gereja Hati Kudus di Simpang Lima Banda Aceh (foto: Ampelsa/Antara)
A
A
A

Umat Islam dan MPU Hormati Perayaan Natal di Aceh

Sementara seorang warga muslim beranama Hasan (40) sedang meneguk secangkir kopi hangat di gelas kaca saat ditemui Okezone. Ia baru saja pulang dari Masjid usai Salat Dzuhur. Peci putih masih melekat di kepalanya. Siang itu ia merasa sedikit kepanasan dan lelah. Hasan merupakan salah seorang pedagang yang tinggal di Kampung Mulia, Banda Aceh.

Siang itu, Hasan menikmati kopi di salah warung berhadapan langsung dengan Gereja Methodis Indonesia (GMI). Warkop ini menjadi tempat ia melepaskan penat saat siang hari. Bahkan berbaur dengan teman-teman lain yang non muslim bericerita tentang seputar perkembangan Aceh dan masala perkerjaan.

“Ya sering kami duduk di sini, mereka itu sudah seperti saudara tidak ada masalah meski berbeda agama. Terpenting tetap saling menghormati saja,” kata Hasan mengawali diskusi bersama Okezone.

Gereja Katolik Hati Kudus, di kawasan Simpang Lima, Banda Aceh (foto: Zuhri Noviandi/Okezone)

Katanya, meski di Aceh lebih kental dengan syariat Islam namun tidak ada masalah soal keberadaan pemeluk agama lain. Hubungan sosial berlangsung dengan baik saling menghargai tanpa menganggu satu sama lain. Bahkan Hasan meminta pada seluruh masyrakat di Banda Aceh khususnya, untuk saling menjaga kemaanan saat pelaksanaan Natal.

“Itu adalah hari ibadah mereka kita tidak boleh ganggu, begitu juga denga kami muslim. Selama ini baik hari raya Idul Fitri maupun acara-acara besar Islam lainnya, non muslim di sini sangat menghormati yang penting tidak ada saling menganggu,” katanya.

(Baca Juga: Perayaan Natal dan Tradisi Pembuatan Miniatur Kandang Tempat Lahir Yesus Sang Juru Selamat)

Hal senada juga turut di sampaikan, Wakil Ketua Majelis Permusyawaratan Ulama (MPU) Aceh, Tgk Faisail Ali. Melihat dari masa ke masa toleransi umat beragama di Aceh khsusnya Banda Aceh secara umum berjalan dengan baik tidak ada masalah antar umar bergama. Muslim mengharagai minoritas begitu juga sebaliknya.

“Yang sudah berjalan selama ini perlu dipertahankan dirawat bersama sehingga tidak ada gesekan dengan aktifitas yang dilakukan membuat kerukunan selama ini dinodai,” ujarnya.

Dalam konteks kemanusiaan hubungan sosial, Islam tidak melarang bahkan mendorong untuk berinteraksi dengan umat bergama lain dalam konteks kemanusiaan. “Itu memang ajaran daripada islam,”tambahnya.

Tgk Faisal mengharapkan, untuk menjaga kerukunan kepada semua masyarakat baik yang mayoritas dan minorotas untuk sama-sama menjaga komitmen kebatinan yang terbangun selama ini. Hindari provokasi atau upaya pihak luar yang ingin memperkeruh suasana.

Yang selamana ini sudah damai dan aman dalam konteks ibadah perlu dijaga. “Saya rasa ini sesuatu yang baik. jangan karena hal-hal yang sepele itu bisa merusak hal yang besar antara kita hubungan umat beragama,” ucapnya.

(Fiddy Anggriawan )

News Okezone memberikan berita terkini dengan akurat dan terpercaya. Ikuti informasi terbaru tentang politik, sosial, dan peristiwa penting lainnya, langsung dari sumber yang terpercaya.

      
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita news lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement