Kala itu, perayaan Natal pada 25 Desember 2015, tepat pada hari Jumat. Di mana, umat Muslim juga melaksanakan Jumatan. Menjelang Jumatan, di Gereja HKBP juga tengah berlangsung Misa Natal. Banyak jamaatnya yang terlihat berasal dari luar lingkungan Jalan Padat Karya. Namun, kenyamanan beribadah satu dengan lainnya tak terganggu.
Saat umat Muslim melintasi jalan di depan gereja menuju Masjid, antarumat beragama ini saling sapa. Sejak dimulainya khotbah hingga Salat Jumat berlangsung, aktivitas di Gereja pun sunyi. Hanya suara sayup yang terdengar dari sana. Misa Natal ditunda sampai umat Muslim selesai Jumatan.
Kala itu, usai memimpin ibadah misa, Pendeta S. Simanungkalit mengatakan, demi menciptakan kedamaian dan kerukunan dalam hidup bersama sesama manusia, sudah lama toleransi dan komunikasi antarumat tercipta di sana.
"Kami saling mengerti dan saling membantu. Seperti tadi, kami komunikasi. Jika ada acara di Masjid, kami berhenti dulu," kata Pimpinan Gereja HKBP Jeruju.
Gereja HKBP berdiri pada 1982. Lalu, 18 tahun kemudian, Masjid Nurbaitillah berdiri di sebelahnya. Sampai saat ini, antarumat tidak pernah mengalami masalah. Mereka menjalani kewajiban dengan aman dan damai berdampingan.