Tewas Dipukul Siswa, Jasad Guru Seni Rupa di Sampang Akan di Autopsi

Puteranegara Batubara, Okezone · Jum'at 02 Februari 2018 15:01 WIB
https: img.okezone.com content 2018 02 02 340 1853783 tewas-dipukul-siswa-jasad-guru-seni-rupa-di-sampang-akan-di-autopsi-C4YyoSaZHw.jpg Jasad Budi saat diantar ke liang lahat (foto: Syaiful/Okezone)

JAKARTA - Jasad guru seni rupa SMAN 1 Torjun (Smator), Kabupaten Sampang, Ahmad Budi Cahyono, yang diduga tewas usai dipukul oleh muridnya, MH, akan di autopsi. Hal itu untuk mengetahui secara pasti apakah memang meniggalnya guru honorer berkaitan dengan pemukulan tersebut.

"Sebaiknya di autopsi untuk mencari penyebab kematian, dan penyebab kematian nanti akan bisa ungkap apa yang terjadi dan kira-kira siapa pelakunya," ucap Kadiv Humas Mabes Polri Irjen Setyo Wasisto dikantornya, Jakarta, Jumat (2/2/2018).

Setyo menjelaskan, awal mula pemukulan itu terjadi saat guru tersebut menegur MH karena ketika mata pelajaran seni rupa dimulai dia kerap jahil kepada teman-temannya. Namun, MH mengabaikan teguran dari gurunya.

Kemudian, Ahmad pun kembali menegur MH karena tak berhenti mengerjai kawan-kawannya yang sedang serius mengerjakan tugas. Tetapi, setelah kembali ditegur, MH justru tak terima. Dia malah memukul Ahmad di bagian sekitar kepalanya.

 (Baca juga: Guru di Sampang yang Tewas Dianiaya Siswa Dikenal Berkepribadian Baik)

Sebenarnya, kata Setyo setelah insiden pemukulan itu, Ahmad dan MH sudah dimediasi oleh Kepala Sekolah. Namun, saat perjalanan pulang, guru nahas itu langsung mengalami gangguan kesehatan.

"Tetapi setelah pulang ke rumah, merasa badan ga enak dan dibawa ke rumah sakit. Ternyata dokter katakan sudah menyerang ke batang otak, pembuluh darah," ucap Setyo.

 (Baca juga: Guru Seni di Sampang Tewas Dianiaya Siswa, Diduga Tak Terima Ditegur)

Oleh karena itu, menurut Setyo, autopsi itu dibutuhkan untuk membuktikan tewasnya Ahmad apakah berkaitan dengan insiden pemukulan yang dilakukan oleh MH.

"Sehingga dibawa ke rumah sakit dan meninggal dunia. Kami prihatin didunia pendidikan terjadi masalah seperti ini," tutup Setyo.

(wal)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini