nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Sadis, Orangutan Mati Akibat Ditembus 130 Peluru

Bambang Ir, Okezone · Rabu 07 Februari 2018 11:45 WIB
https: img-k.okeinfo.net content 2018 02 07 340 1855928 sadis-orangutan-mati-akibat-ditembus-130-peluru-7U9otQrToe.jpg Hasil Autopsi Orangutan yang Mati Ditembus 130 Peluru (foto: Bambang Ir/Okezone)

KUTAI KARTANEGARA – Perilaku kejam terhadap orangutan kembali terjadi di Kalimantan Timut (Kaltim). Kali ini menimpa seekor orangutan yang ditemukan di Desa Teluk Pandan, Kabupaten Kutai Timur, Kalimantan Timur.

Orangutan yang diperkirakan berusia 5-7 tahun itu saat ditemukan dalam kondisi menggenaskan. Di tubuh orangutan tersebut penuh peluru, bahkan jumlahnya mencapai 130 peluru senapan angin dan puluhan luka bacok, bahkan kaki kiri dalam kondisi buntung.

(Baca Juga: Belasan Peluru Bersarang di Bangkai Orangutan yang Mati Tanpa Kepala)

Orangutan tersebut, ditemukan Sabtu 3 Februari 2018 oleh warga Teluk Pandan, namun menghembuskan nafas pada Senin 5 Februari 2018 dini hari sekira pukul 01.55 Wita.

Orangutan Mati Akibat Ditembak dengan Senapan Angin (foto: Bambang Ir/Okezone)

Dari hasil rontgen terhadap mayat orangutan tersebut, oleh pihak RS Pupuk Kaltim, Bontang bersama Centre for Orangutan Protection (COP), Polres Bontang, dan Polres Kutai Timur, ditemukan paling tidak 130 peluru senapan angin yakni di bagian kepala sebanyak 74 peluru, tangan kanan sebanyak 9 peluru, tangan kiri sebanyak 17 peluru, kaki kanan sebanyak 10 peluru, kaki kiri sebanyak 6 peluru dan di bagian dada sebanyak 17 peluru.

“Namun tim otopsi hanya mampu mengeluarkan 48 peluru,” kata Manager Perlindungan Habitat COP, Ramadhani, lewat keterangan tertulis kepada Okezone.

Autopsi terhadap orangutan yang memiliki nama ilmiah pongo pygmaeus ini berlangsung selama 4 jam. Selain itu, kedua mata orangutan itu mengalami kebutaan akibat adanya beberapa peluru di sekitar mata, satu lubang diameter 5 mm di pipi kiri, gigi taring bagian bawah sebelah kiri patah.

Luka terbuka yang masih baru sebanyak 19 titik diperkiraan dari benda tajam, telapak kaki kiri tidak ada namun merupakan luka lama, testis bagian kanan terdapat luka sayatan dan bernanah, lebam daerah paha kiri, dada kanan dan tangan kiri diperkirakan akibat benda tumpul, temuan dalam usus besar ada 3 biji buah kelapa sawit dan lambung berisi buah nanas.

“Penyebab kematian sementara diperkirakan karena adanya infeksi akibat luka yang lama ataupun yang baru terjadi,” tegasnya.

Ramadhani menambahkan, dengan jumlah 130 peluru merupakan yang terbanyak dalam sejarah konflik antara orangutan dan manusia yang pernah terjadi di Indonesia. “Lemahnya penyelesaian kasus dan kurangnya kesadaran masyarakat sehingga kasus seperti ini terus terulang,” urainya.

(Baca Juga: Habitatnya Terusik, Orangutan Turun ke Permukiman Warga Kukar dan Bikin Heboh)

Pada Mei 2016 lalu, juga telah terjadi motif kasus yang sama dengan lokasi yang tidak terlalu jauh namun tidak terungkap hingga sekarang. “Semestinya kasus ini menjadi hal yang memalukan bagi kita semua di tengah upaya pemerintah melakukan strategi dan rencana aksi konservasi orangutan secara nasional,” tutur Ramadhani.

“Kami akan berkoordinasi dengan kepolisiandan Kementerian LHK untuk sama-sama kasus ini bias terungkap. Pengalaman dua pecan lalu pembunuhan orangutan di Kalahien, Kalimantan Tengah bias terungkap oleh Polda Kalteng. Sehingga kami meyakini ini hanya persoalan keseriusan dari pihak penegak hokum dalam menyelesaikan kasus” pungkasnya.

(fid)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini