Share

Dedi Mulyadi: Ketenaran Golok Harus Setara Samurai Khas Jepang

Mulyana, Okezone · Minggu 18 Februari 2018 15:15 WIB
https: img.okezone.com content 2018 02 18 525 1861097 dedi-mulyadi-ketenaran-golok-harus-setara-samurai-khas-jepang-Fs4dbdaPKm.jpg Dedi Mulyadi (Foto: Okezone)

PURWAKARTA - Golok, merupakan salah satu produk kebudayaan di Nusantara. Senjata tajam hasil kerajinan masyarakat ini, bisa sekaligus menjadi identitas sebuah wilayah.

Menurut Calon Wakil Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, produk kebudayaan seperti seperti halnya golok ini perlu dijaga kelestariannya. Bila perlu, ketenaran golok harus dikenal luas seperti halnya Samurai khas Jepang.

"Golok merupakan produk kebudayaan. Sudah saatnya, kita menghargai karya budaya bangsa," ujar mantan Bupati Purwakarta dua Periode itu, akhir pekan kemarin. 

Dedi menyayangkan, sampai saat ini nasib produk budaya di Indonesia kebanyakan tidak semapan dengan produk budaya luar. Fenomena ini, menurut Dedi, harus segera diakhiri.

"Di Jepang itu kan masyarakatnya sangat menghargai samurai. Kalau penghargaan bangsa kita terhadap produk budaya sudah seperti itu, maka saya yakin golok dari Cisaat pun bisa seperti samurai dari Jepang," kata Dedi.

(Baca Juga: Punya Rumah Pribadi, Demiz Justru Rela Sewa Rumah Demi Anak)

Dedi berpendapat, salah satu cara supaya Golok ini bisa setara dengan Samurai, yakni bisa dengan mendorong kreatifitas perajinnya. Salah satunya, dengan menambah desain arsitekturnya tanpa menghilangkan kekhasannya.

"Golok bisa seperti samurai, tapi desain artistiknya ditambah. Caranya, tambahkan ukiran yang bagus. Selain itu, tak boleh dimistifikasi, ini rasional loh untuk menarik pembeli," ujarnya.

Dedi pun menyadari bahwa untuk menuju orientasi tersebut dibutuhkan berbagai piranti, baik infrastruktur maupun suprastrukturnya. Karena itu, ke depan dirinya siap memberikan fasilitas kepada para perajin golok.

"Dari mulai hulu hingga hilir, branding, packaging dan marketing kita fasilitasi. Kalau produk kita berkualitas, saya yakin bisa berkembang dan menarik perhatian," ungkapnya. 

Secara jangka panjang, sektor pendidikan pun dapat digenjot demi kesinambungan program tersebut. Menurut Dedi, sekolah-sekolah harus diberi ruang untuk mempelajari produk-produk khas budaya. 

"Jangan sampai sejarah hilang ditelan masa. Maka, produk ini harus lestari dengan membuka ruang bagi dunia pendidikan untuk turut serta," pungkasnya. 

Solusi yang diutarakan Dedi, bukan tanpa alasan. Sebelumnya, pria nyentrik berperawakan kecil itu mendapat keluhan dari Yedi Bedog (45), seorang pandai besi dari Cisaat, Sukabumi. Saat itu, Yedi mengeluhkan soal kesulitannya pemasaran produknya ini.

"Susah nyari pasarnya pak. Dulu mah orang pada datang ke rumah, sekarang mah saya sudah keliling tapi masih susah juga menjualnya," ungkap Yedi.

(Baca Juga: Deddy Mizwar Yakin Raih 50 % Suara Pilgub Jabar, Ini Alasannya)

Kesulitan pemasaran tidak menjadikan Yedi meninggalkan profesi yang telah digelutinya sejak remaja itu. Pasalnya, profesi tersebut merupakan warisan yang sudah turun temurun di keluarga besarnya.

"Ini warisan keluarga. Jadi, meski susah tetap saja saya jalani," katanya.

Yedi menuturkan, produknya ini kalah bersaing dengan golok hasil pabrikan. Hal ini, karena strategi pemasaran golok produk pabrikan tersebut lebih gencar dibanding produk golok tradisional.

"Iya, kalah sama yang dibuat sama pabrik sepertinya. Dulu itu, enggak usah keliling juga laku keras. Sekarang, sehari laku 3 buah juga sudah Alhamdulillah," pungkasnya.

Baca Juga: BuddyKu Festival, Generasi Muda Wajib Hadir

Follow Berita Okezone di Google News

(Ari)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini