Menurut Gomi, Kim Jong-nam menginginkan ayahnya mengubah sistem ekonomi Korea Utara. Dia menghendaki reformasi ala Cina, yang memungkinkan terjadinya sejumlah reformasi pasar dan properti pribadi.
"Kim Jong-il sangat marah kepadanya," kata Gomi. "Dia mengatakan Kim Jong-nam harus mengubah pemikirannya atau dia harus pergi keluar Pyongyang."
Wartawan Bradley K Martin setuju dengan pandangan Gomi. Dia menulis biografi penting tentang dinasti Kim, melalui karya besar berjudul Under the Loving Care of the Fatherly Leader.
"Kim Jong-nam ditolak bukan karena dia pergi ke Disneyland," katanya. Kasus itu mungkin hanya dalih. "Saya pikir ayahnya tidak malu (akibat kasus Disneyland Tokyo). Saya pikir Kim Jong-nam membicarakan berbagai hal terkait kebijakan dan perlunya perubahan, dan ayahnya tidak suka."
Kim Jong-nam diasingkan ke Beijing.
Pewaris berikutnya seharusnya adalah anak laki-laki tengah Kim Jong-il, Kim Jong-chol. Tetapai sepertinya dia tidak pernah dipertimbangkan secara serius. Dia malahan memilih anak laki-laki terkecilnya, Kim Jong-un.
"Dia dipilih ayahnya karena dia adalah yang paling kejam dan jahat di antara anak laki-lakinya," kata Martin.

Dengan kata lain Kim Jong-un memiliki kemungkinan yang lebih besar untuk meneruskan kelangsungan hidup dinasti dan mempertahankan bisnis keluarga.
Dan dia memang memperlihatkan kekejamannya. Begitu Kim Jong-il meninggal dan Kim Jong-un mengambil alih, saudara tirinya mulai gelisah, kata Gomi.
"Setelah Kim Jong-il meninggal, Kim Jong-nam tiba-tiba merasa tidak aman. Terakhir kali kami berhubungan adalah pada bulan Januari 2012. Saat itu Kim Jong-nam mengatakan kepada saya, 'Saudara laki-lakiku dan dinasti Kim akan melakukan suatu hal yang membahayakan diriku."
Martin percaya Kim Jong-un berada di balik pembunuhan kakaknya.
"Ini sama dengan pembunuhan (pamannya) Chang Song-thaek," katanya. "Chang dituduh merencanakan kudeta. Kita (media Barat) tidak memperhatikannya. Kemudian Kim Jong-un menyasar saudara laki-lakinya. Kami memiliki sejumlah laporan yang menyebutkan Chang pergi ke Cina dan mengatakan, 'Mari habisi Kim Jong-un dan menggantinya dengan Kim Jong-nam'. Kim memandang, 'Paman dan kakak laki-laki saya berencana menentang saya dan bersekongkol dengan Cina.' Ini alasan yang kuat."
Itu hanyalah sebuah teori, tetapi kesimpulan selanjutnya sulit dibantah.
"Sekarang tidak ada lagi ancaman terhadap kekuasaan Kim Jong-un. Penentang dari dalam sudah hilang."
Kim Jong-un sekarang menjadi penguasa tertinggi. Tetapi apa yang sebenarnya diinginkannya dari negaranya yang kecil dan miskin?
Perjalanan
Pada musim panas tahun 1998, Kim Jong-un kembali ke Korea Utara, karena sekolahnya di Swiss libur. Dia sedang di rumah keluarga besar di pantai dekat Wonsan.
Dia berada di kereta untuk kembali ke ibu kota Pyongyang. Duduk bersamanya, sambil mengamati desa dan sawah, adalah juru masak asal Jepang Kenji Fujimoto.
Dalam buku yang terbit pada 2003, Fujimoto menulis bahwa Kim Jong-un mengatakan kepadanya, "Fujimoto, negara kita terbelakang di bidang teknologi industri, bahkan dibandingkan negara-negara Asia lainnya. Kita masih mengalami mati listrik."
Dia mengatakan Kim kemudian membandingkan keadaan Korea Utara dengan China.
"Saya dengar China telah berhasil dalam banyak hal. Jumlah penduduk kita 23 juta orang. Rakyat China jumlahnya lebih satu miliar. Bagaimana mereka dapat memasok listrik? Pastinya sulit menghasilkan cukup pangan bagi satu miliar orang. Kita perlu mengikuti contoh mereka."
Jika cerita Fujimoto benar, maka Kim Jong-un telah menyampaikan pemikiran yang sebenarnya tidak pantas berdasarkan sistem yang berlaku di Korea Utara.
Sejak 1955, ideologi penuntun Korea Utara adalah Juche. Kata yang sering kali diterjemahkan sebagai 'kemandirian'. Ini adalah "sumbangan terbesar" Kim Il-sung terjadap pemikiran Marxist-Leninist. Ada tugu peringatan besar Juche di bantaran selatan Sungai Daedong di Pyongyang. Orang-orang diminta untuk tidak meremehkan tugu ini.
Tetapi Juche adalah sebuah mitos. Korea Utara tidak mandiri dan memang tidak pernah mandiri. Dalam 40 tahun pertama negara ini nyaris 100% bergantung kepada dukungan ekonomi Moskow. Ketika Uni Soviet runtuh, ekonomi Korea Utara yang dikendalikan pemerintah juga ambruk dan rakyatnya kelaparan.