Advertisement
Advertisement
Advertisement
INFOGRAFIS INDEKS
Advertisement

Kim Jong-Un: Bukan 'Putra Mahkota' Tapi Akhirnya Menjadi Pemimpin Korea Utara

Agregasi BBC Indonesia , Jurnalis-Selasa, 05 Juni 2018 |09:38 WIB
Kim Jong-Un: Bukan 'Putra Mahkota' Tapi Akhirnya Menjadi Pemimpin Korea Utara
Kim Jong-un dan Kim Jong-il. (Foto: Reuters)
A
A
A

Di tengah kelaparan, rakyat Korea Utara mulai berdagang. Dari kekacauan dan keruntuhan pada 1990-an, muncul ekonomi baru. Tidak diatur dan secara resmi tidak diakui, tetapi bisa membantu rakyat Korea Utara bertahan hidup.

Pengaruh ekonomi 'tidak resmi' ini jelas terasa saat saya mewawancarai seorang pembelot muda di Seoul pada 2012.

Presiden Korea Selatan Park Geun-hye baru saja memerintahkan penutupan Kawasan Industri Kaesong di seberang daerah demiliterisasi (DMZ) Korea Utara.

"Ketika saya mendengar berita itu, saya menghubungi ayah dan memintanya untuk pergi ke China dan membeli Choco Pies," kata pembelot muda itu kepada saya.

Ini membuat saya bingung.

"Maaf," kata saya,"Ayah Anda di mana?"

"Di Korea Utara," katanya.

"Bagaimana Anda menghubunginya?" tanya saya.

Ayahnya ternyata memiliki kartu sim Cina. Ini melanggar hukum dan berbahaya, tetapi yang melakukannya. Sekali seminggu dia mengunjungi perbatasan Cina, menghubungkan telepon genggam ke jaringan seluler Cina dan anak laki-lakinya bisa meneleponnya.

"Dan apa hubungannya dengan Choco Pies?" saya bertanya.

Perusahaan-perusahaan Korea Selatan yang beroperasi di Kawasan Industri Kaesong membayar sebagian upah pekerja Korea Utara dalam bentuk produk Korea Selatan. Salah satu yang paling digemari adalah Choco Pies.

Produk ini sangat populer sehingga menjadi mata uang pasar gelap di Utara. Sekarang Kawasan Kaesong ditutup, harga Choco Pies di pasar gelap meroket. Jadi dia mengatakan kepada ayahnya untuk pergi ke Cina dan membawa sebanyak mungkin kardus berisi Choco Pies.

Akan sangat menguntungkan jika punya banyak persediaan Choco Pies ini.

Di sebuah gereja di pinggiran Seoul, saya bertemu seorang pembelot yang sangat berbeda. Tubuhnya pendek dengan bahu lebar dan berotot, gigi ompong, dan logat kental sehingga penerjemah Korea Selatan pun sulit memahaminya.

"Saya seorang penyelundup," katanya.

Dia menceritakan bagaimana komplotannya menyuap pengawal perbatasan Korea Utara agar membiarkan sebagian daerah perbatasan tidak dijaga pada malam hari. Mereka kemudian melintas ke Cina membawa kepingan logam dan mineral berharga.

"Apa yang Anda selundupkan balik?" saya bertanya.

"Semua hal, makanan, pakaian, DVD, obat, barang porno," katanya. "Obat dan pornografi berbahaya."

"Apa yang paling berbahaya yang diselundupkan ke luar Korea Utara?" saya bertanya.

"Jika Anda mengambil logam dari patung Kim, Anda akan ditembak," katanya.

Barang impor dan selundupan dari Cina diperdagangkan di pasar-pasar besar yang muncul di beberapa kota.

Ini adalah ekonomi tidak resmi yang berjalan dengan baik. Kelompok baru wiraswastawan kaya dilaporkan membeli properti di Pyongyang. Ekonomi Korea Utara sedang tumbuh. Tetapi tidak terjadi pergeseran ideologi, tidak terdapat isyarat perubahan mendasar dari atas.

Kemudian pada tanggal 20 April 2018, dalam sidang pleno Partai Pekerja, Kim Jong-un menyampaikan pidato berjudul:

"Lanjutan peningkatan pembangunan sosialis diperlukan lewat tahapan baru revolusi pembangunan."

Di dalamnya Kim menyatakan pembekuan uji senjata nuklir dan peluru kendali jarak jauh dan 'garis strategis baru' yang dipusatkan pada pembangunan ekonomi Korea Utara.

Pidato ini dipandang sejumlah pengamat sebagai isyarat Kim Jong-un siap memenuhi janji yang disampaikannya di kereta, mengikuti contoh Cina.

Salah satunya adalah John Delury dari Yonsei University di Seoul.

"Strategi baru mendahulukan ekonomi, 100% pada ekonomi," katanya. "Kim mengatakan, 'Saya akan benar-benar memperbaiki ekonomi. Anda tidak lagi perlu mengetatkan ikat pinggang.'

"Dalam lima atau enam tahun terakhir terjadi sedikit perbaikan tetapi tidak ada terobosan. Dia malahan memusatkan perhatian pada program nuklir. Jadi sekarang kita menyaksikan titik balik."

Yang lainnya, seperti Bradley K Martin, tidak seyakin itu.

"Apakah dia benar-benar berpikir dapat mengubah negara ini? Saya tidak tahu. Ini tidak sejalan dengan apa yang kita ketahui tentang dirinya. Dia mempunyai kesempatan bertahun-tahun jika memang menginginkan hal itu. Dia memperlihatkan pertunjukan yang sama dengan ayah dan kakeknya. 'Mari kita membangun tugu.' Mereka masing-masing melakukan hal yang sama.

"Saya tidak melihat bukti bahwa ekonomi sudah berubah kecuali mengakui adanya ekonomi lain, yang memang diperlukan. Semua orang akan meninggal jika 'ekonomi lain' itu tidak ada."

Jika Kim Jong-un sekarang benar-benar akan membangun negaranya, dia memerlukan pencabutan sanksi. Dia membutuhkan perdagangan dan penanaman modal besar-besaran. Untuk meraih itu, Amerika Serikat dan sekutunya akan menuntutnya menghentikan 'senjata andalannya', senjata nuklirnya. Apakah itu memang keinginannya sekarang?

      
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita news lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement