nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Malaysia Bekukan 408 Rekening Bank Terkait Skandal 1MDB

Rahman Asmardika, Jurnalis · Selasa 03 Juli 2018 12:07 WIB
https: img-z.okeinfo.net content 2018 07 03 18 1917114 malaysia-bekukan-408-rekening-bank-terkait-skandal-1mdb-W1sATvA5k6.jpg Foto: Reuters.

KUALA LUMPUR – Malaysia telah membekukan lebih dari 400 rekening bank sebagai bagian dari penyelidikan skandal korupsi dana negara senilai miliaran dolar, 1Malaysia Development Berhad (1MDB).

Penyelidikan kasus yang sempat dihentikan pada masa pemerintahan mantan Perdana Menteri (PM) Najib Razak itu kembali dibuka oleh PM Mahathir Mohamad yang melengserkan Najib pada pemilihan umum Mei lalu. PM Mahathir telah berjanji untuk mengembalikan semua uang yang diselewengkan dari dana investasi negara itu dan menyeret orang-orang yang bertanggungjawab ke pengadilan.

BACA JUGA: KPK Malaysia Bekukan Rekening Bank Partai Terbesar UMNO

Dalam pernyataan yang disampaikan pada Senin, gugus tugas penyelidikan 1MDB mengatakan telah membekukan 408 rekening dengan nilai sekira 1,1 miliar ringgit sebagai bagian dari investigasi. Rekening yang dibekukan termasuk rekening milik 81 individu dan 55 perusahaan yang diyakini telah menerima dana dari 1MDB dan melibatkan hampir 900 transaksi antara Maret 2011 sampai September 2015.

"Akun-akun itu diyakini terkait dengan penyelewengan dan penyalahgunaan dana 1MDB," demikian disampaikan gugus tugas tersebut sebagaimana dilansir Reuters, Selasa (3/7/2018).

BACA JUGA: Polisi Malaysia Sita Perhiasan dan Barang Mewah Senilai Rp3,8 T dari Rumah Najib Razak

Sebelumnya, gugus tugas itu telah membekukan rekening milik partai politik terbesar Malaysia, United Malay National Organisation (UMNO). Partai yang sebelumnya dipimpin oleh tersangka utama kasus 1MDB, Najib Razak itu diduga kuat menerima kucuran dana hasil penyelewengan 1MDB.

Didirikan oleh Najib pada tahun 2009, 1MDB sedang diselidiki di setidaknya enam negara karena dugaan pencucian uang dan korupsi. Departemen Kehakiman Amerika Serikat memperkirakan bahw hampir USD4,5 miliar (Rp 65 triliun) telah diselewengkan dari perusahaan investasi tersebut.

(dka)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini