nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Apa yang Bisa Dihasilkan dari Pembicaraan Damai Konflik Yaman di Swedia?

Agregasi BBC Indonesia, Jurnalis · Kamis 06 Desember 2018 13:50 WIB
https: img-k.okeinfo.net content 2018 12 06 18 1987605 apa-yang-bisa-dihasilkan-dari-pembicaraan-damai-konflik-yaman-di-swedia-pPNLwSXayv.jpg Tentara Houthi. (Foto: AFP)

PERUNDINGAN damai yang disponsori PBB dengan tujuan mengakhiri perang saudara di Yaman akan dimulai di Swedia.

Tim PBB akan mendampingi delegasi pemerintah Yaman dan kelompok pemberontak Houthi dalam pembicaraan informal di kastil Johannesbergs di luar kota Stockholm selama akhir pekan ini.

Perang saudara di Yaman telah menyebabkan krisis kemanusiaan terburuk di dunia belakangan ini.

Ribuan orang tewas dalam pertempuran dan jutaan orang terancam kelaparan.

BACA JUGA: Pembicaraan Perdamaian Yaman Akan Dimulai di Swedia Pada Kamis

Upaya membuka pembicaraan informal dari kedua pihak yang bertikai sudah dimulai sejak 2016.

Pada September lalu, ada usaha mempertemukan perwakilan mereka di Jenewa, tetapi gagal, setelah delegasi kelompok Houthi membatalkan rencana pertemuan di Jenewa, Swiss.

Apa yang akan terjadi?

Terlepas dari berbagai niatnya, para pihak tak terlalu berharap muluk tentang langkah terobosan yang bisa dihasilkan dalam menyelesaikan konflik di Yaman.

Para wartawan yang meliput pertemuan ini mengatakan tujuan utama dari pembicaraan awal ini untuk mencegah pertempuran habis-habisan di pelabuhan Hudaydah yang dikuasai pemberontak.

Di kota pelabuhan di pinggir Laut Merah ini terdapat ribuan warga sipil yang terperangkap dalam pertempuran.

PBB juga berharap pertemuan ini dapat melahirkan kerangka awal yang dibutuhkan sebagai bahan perundingan lebih lanjut dalam menyelesaikan konflik politik di Yaman.

Anggota delegasi kelompok Houthi, Saelem Mohammed Noman Al-Mughalles, di depan kastil Johannesberg di kota Rimbo, 50km dari kota Stockholm, Swedia, 5 Desember 2018. (Foto: AFP)

Pembicaraan yang diperkirakan akan berlangsung seminggu ini akan bersifat informal, dilangsungkan melalui kelompok-kelompok kerja.

"Pada beberapa masalah tertentu, lebih masuk akal bagi kedua pihak untuk duduk bersama, tetapi untuk masalah lainnya mereka akan berdiskusi dalam kelompok terpisah," kata sebuah sumber kepada BBC.

Perwakilan pemerintah Yaman yang diakui dunia internasional - yang didukung koalisi militer pimpinan Arab Saudi - telah tiba di Swedia pada Rabu.

Sehari sebelumnya, utusan khusus PBB Martin Griffiths telah menemani delegasi kelompok pemberontak Houthi - yang didukung Iran - berangkat ke Stockholm.

Sebelum bertolak, wakil pemerintah Abdullah al-Alimi menulis di Twitter bahwa pembicaraan di Stockholm merupakan "kesempatan yang baik untuk perdamaian".

Kepala delegasi kelompok Houthi, Mohammed Abdelsalam, menyatakan bahwa pihaknya bertekad untuk "tidak akan menyia-nyiakan kesempatan agar pembicaraan ini berjalan lancar."

Namun demikian, dia juga memperingatkan bahwa kelompok pemberontak harus tetap "waspada terhadap upaya peningkatan serangan militer".

Sebagai persiapan untuk membuka jalannya perundingan, Griffiths berhasil mengusahakan dilakukannya evakuasi terhadap 50 orang anggota kelompok Houthi yang terluka untuk dirawat di Oman.

Koalisi militer yang dipimpin Arab Saudi menyetujui permintaan Griffiths ini sebagai langkah membangun kepercayaan menjelang pembicaraan di Swedia.

Mengapa perang terjadi di Yaman?

Yaman luluh-lantak akibat konflik yang eskalasinya makin meningkat pada awal 2015, ketika kelompok Houthi menguasai sebagian besar wilayah barat negara itu dan memaksa Presiden Abdrabbuh Mansour Hadi kabur ke luar negeri.

Khawatir dengan kemunculan kelompok Houthi yang dianggap mendapat dukungan Iran, UEA, Arab Saudi dan tujuh negara Arab lainnya melakukan campur tangan dalam upaya untuk memulihkan pemerintahan di Yaman.

BACA JUGA: Houthi dan Arab Saudi Lakukan Pembicaraan Rahasia untuk Akhiri Perang

Setidaknya 6.660 warga sipil telah tewas dan 10.560 orang terluka selama perang di Yaman, menurut PBB.

Perang lebih dari tiga tahun di Yaman telah mengakibatkan ribuan warga sipil meninggal, kekurangan gizi, terserang penyakit, serta kesehatan yang buruk.

Organisasi Kesehatan Dunia telah memperingatkan pada Oktober lalu bahwa sekitar 10.000 orang dikhawatirkan terpapar wabah kolera setiap pekannya.

1 / 2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini